JAKARTA (MAWARTA) – Tantangan industri untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan dampak terhadap lingkungan mendorong Universitas Pertamina (UPER) memperkuat riset dan kolaborasi di bidang green chemistry atau kimia hijau.
Langkah tersebut diarahkan untuk mendorong lahirnya proses produksi yang lebih efisien, hemat sumber daya, sekaligus mampu mengurangi penggunaan bahan berbahaya dan timbulan limbah industri.
Penguatan ekosistem kimia hijau itu dilakukan UPER melalui kolaborasi bersama pemerintah, dunia industri, akademisi, generasi muda hingga mitra global.
Salah satu agenda yang telah digelar yakni Green Chemistry for Industrial Excellence (GCIE) 2026 bersama Global Greenchem Innovation and Network Program (GGINP) Indonesia di Makassar pada Juli 2026.
Kegiatan tersebut mempertemukan 50 pelaku industri dari 31 perusahaan dan institusi untuk membahas penerapan kimia hijau yang lebih dekat dengan kebutuhan dunia industri.
Direktur Industri Kimia Hijau Kementerian Perindustrian, Wiwik Pudjiastuti, yang hadir dalam kegiatan tersebut menilai penerapan green chemistry memiliki peran penting dalam mendorong efisiensi sekaligus memperkuat daya saing industri.
“GCIE menjadi ruang untuk membawa green chemistry dari pengetahuan menuju penerapan nyata di industri. Dengan proses yang lebih efisien dan penggunaan sumber daya yang optimal, industri dapat mengurangi dampak lingkungan sekaligus meningkatkan daya saing,” ujar Wiwik dalam pembukaan seminar dan diskusi GCIE 2026.
Bagi UPER, pengembangan kimia hijau bukan sekadar agenda akademik. Perguruan tinggi tersebut berupaya menjembatani hasil riset dengan persoalan konkret yang dihadapi industri.
Komitmen itu semakin diperkuat setelah UPER dipercaya menjadi koordinator nasional GGINP Indonesia sejak 2024. Melalui program tersebut, berbagai pihak didorong untuk membangun ekosistem kolaborasi dalam pengembangan inovasi kimia yang lebih aman dan berkelanjutan.
Libatkan Generasi Muda
Penguatan industri hijau juga dilakukan dengan melibatkan generasi muda melalui Greenovate Challenge 2026: Green Chemistry Policy Challenge.
Kompetisi tersebut mengajak peserta menyusun policy brief untuk menjawab sejumlah tantangan pengembangan industri bioetanol nasional, mulai dari ketersediaan bahan baku, pengembangan teknologi hingga optimalisasi rantai pasok.
Director of Accelerator Program GGINP Indonesia sekaligus Dosen Kimia UPER, Dr. Eng. Paramita Jaya Ratri, M.Si., S.Si., mengatakan keterlibatan generasi muda penting untuk melahirkan perspektif baru dalam menjawab persoalan industri.
Menurutnya, peserta tidak hanya dituntut memahami persoalan bioetanol, tetapi juga mampu mengubah pengetahuan tersebut menjadi rekomendasi yang relevan bagi pengembangan industri maupun kebijakan.
“Generasi muda perlu diberi ruang untuk memahami persoalan industri secara langsung dan menerjemahkan pengetahuan yang dimiliki menjadi gagasan serta rekomendasi yang dapat diterapkan,” ujarnya.
Kimia Hijau Masuk Ruang Kelas
Tidak hanya menyasar pelaku industri dan generasi muda, UPER juga memperkuat penerapan konsep kimia hijau melalui sektor pendidikan.
Dalam rangkaian GCIE 2026, sebanyak 38 guru kimia dari 32 SMA dan sederajat di Makassar mendapatkan pembekalan mengenai pembelajaran kimia hijau yang kontekstual, aman dan berorientasi pada keberlanjutan.
Konsep tersebut diperkenalkan melalui kegiatan praktikum sederhana, di antaranya pembuatan indikator pH menggunakan kol ungu dan bunga telang. Pendekatan ini membuat prinsip kimia hijau lebih mudah dipahami karena menggunakan bahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Selain memperkuat kapasitas pendidik, UPER juga memperluas jejaring dengan dunia industri dan perguruan tinggi.
Hal itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara UPER, PT Kawasan Industri Makassar (PT KIMA), dan Universitas Hasanuddin. Kerja sama tersebut membuka peluang pengembangan riset serta inovasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan industri.
Riset UPER Didorong Lebih Dekat ke Industri
Memasuki kepemimpinannya sebagai Rektor Universitas Pertamina pada Agustus 2026, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra menilai rekam jejak UPER dalam pengembangan kimia hijau merupakan modal penting untuk memperluas kontribusi perguruan tinggi terhadap industri berkelanjutan.
Menurutnya, posisi UPER yang dekat dengan ekosistem energi dan teknologi menjadi peluang untuk memperkuat riset terapan dan mempertemukan inovasi kampus dengan kebutuhan industri.
“UPER memiliki kekuatan pada kedekatan dengan ekosistem industri, khususnya sektor energi dan teknologi. Ke depan, kami ingin memperluas riset bersama industri, mendorong pengembangan dan uji coba inovasi kimia hijau, serta melibatkan mahasiswa dalam mencari solusi atas persoalan nyata di industri,” ujar Prof. Ichsan.
Ia menambahkan, keberadaan GGINP Indonesia akan terus dimanfaatkan sebagai wadah untuk memperluas kolaborasi dan mendorong agar inovasi yang lahir dari perguruan tinggi tidak berhenti sebagai penelitian.
“Melalui GGINP Indonesia, kami ingin inovasi yang lahir dari kampus semakin dekat dengan penerapan dan memberikan nilai tambah bagi industri,” katanya.
Penguatan kimia hijau tersebut menjadi bagian dari upaya UPER mendorong transformasi industri yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan efisiensi sumber daya dan keberlanjutan lingkungan.
Dengan mempertemukan pemerintah, industri, perguruan tinggi, pendidik dan generasi muda, UPER berupaya membangun ekosistem kolaborasi agar konsep industri berkelanjutan dapat diterapkan secara lebih nyata.















