SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
NASIONAL

Universitas Pertamina Bahas Strategi Turki Redam Terorisme Tanpa Pendekatan Militer

×

Universitas Pertamina Bahas Strategi Turki Redam Terorisme Tanpa Pendekatan Militer

Sebarkan artikel ini
narasumber diskusi strategi turki atasi terorisme universitas pertamina
Narasumber Prof.Ergün Yıldırım dari İstanbul Sabahattin Zaim University memaparkan strategi penanganan terorisme dalam Diskusi Lini Masa Universitas Pertamina di Jakarta. (Foto: Uper)

Jakarta (MAWARTA) – Keberhasilan Turki meredam konflik terorisme melalui pendekatan nonmiliter pada 2024 menjadi sorotan dalam Diskusi Lini Masa ke-11 Universitas Pertamina yang membahas strategi keamanan nasional di tengah ancaman radikalisme.

Forum bertajuk “Keamanan Domestik, Proyeksi Global: Studi Kasus Turki Pasca-Terorisme” digelar di Auditorium Universitas Pertamina dan diikuti sivitas akademika lintas fakultas dan mengulas pendekatan kontra-terorisme berbasis kebijakan sosial, politik, serta ekonomi.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis sekaligus Fakultas Komunikasi dan Diplomasi Universitas Pertamina, Dewi Hanggraeni, menegaskan bahwa terorisme merupakan ancaman multidimensi yang tidak hanya berdampak pada sektor keamanan, tetapi juga ekonomi, sosial, budaya, hingga reputasi internasional.

“Penanganan terorisme tidak bisa dilakukan secara sektoral. Dibutuhkan pendekatan lintas bidang agar stabilitas negara tetap terjaga,” ujar Dewi dalam keterangan persnya diterima Mawarta, Rabu (18/2/2026).

Diskusi menghadirkan Prof. Ergün Yıldırım dari İstanbul Sabahattin Zaim University sebagai narasumber utama.

BACA JUGA:  Debat Calon Presiden 2024: Serangan Siber, Pakar Keamanan dan Pertahanan Angkat Bicara

Ia menjelaskan bahwa konflik terorisme di Turki telah berlangsung panjang sejak kemunculan Partiya Karkerên Kurdistanê (PKK) pada 1990-an dan memerlukan transformasi kebijakan negara untuk meredamnya.

Menurutnya, keberhasilan Turki tidak dicapai semata melalui operasi militer, tetapi melalui kombinasi kebijakan pembangunan ekonomi, penguatan demokrasi, dialog politik, dan pendekatan sosial yang inklusif.

“Keamanan berkelanjutan membutuhkan kepercayaan publik dan kohesi sosial. Tanpa itu, konflik berpotensi berulang,” jelasnya.

Dosen Kajian Terorisme SKSG Universitas Indonesia, Muhammad Syauqillah, serta Rusdi J. Abbas yang hadir sebagai penanggap turut menyoroti pentingnya dialog dan keadilan sosial dalam penyelesaian konflik berbasis identitas.

Pengalaman Turki dinilai dapat menjadi referensi bagi Indonesia dalam memperkuat kebijakan keamanan nasional sekaligus menjaga stabilitas di tengah keberagaman masyarakat.

Melalui Diskusi Lini Masa ke-11, Universitas Pertamina menegaskan perannya sebagai ruang dialog akademik dalam membahas isu strategis keamanan dan dinamika geopolitik global.

BACA JUGA:  Peletakan Batu Pertama, Pertamina Dukung Pengembangan Kampus Universitas Pertamina

Kegiatan ini juga diharapkan memperluas perspektif mahasiswa bahwa penanggulangan terorisme tidak hanya berfokus pada aspek keamanan, tetapi berkaitan erat dengan pembangunan berkelanjutan dan peran negara dalam hubungan internasional. (Son/*)