JAKARTA (MAWARTA) – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan ketatnya persaingan dunia kerja, ekonomi kreatif dinilai menjadi salah satu sektor yang menawarkan peluang besar bagi generasi muda untuk membangun usaha dan menciptakan lapangan pekerjaan.
Namun, di balik besarnya potensi tersebut, masih banyak anak muda yang menghadapi tantangan dalam mengubah ide kreatif menjadi produk atau bisnis yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Hal itu disampaikan kreator konten sekaligus penulis Raditya Dika dalam diskusi edukatif bertajuk “The Digital Native: Mastering Hype, Creativepreneurship, and Business Execution” yang diselenggarakan Universitas Pertamina bekerja sama dengan J&T Connect Preneur dan Narasi, Selasa (9/6/2026).
Menurut Raditya Dika, banyak generasi muda memiliki ide-ide kreatif yang menarik, namun belum mampu menghasilkan nilai ekonomi dari kemampuan tersebut karena belum menemukan kesesuaian antara produk yang dibuat dengan kebutuhan pasar atau market match.
“Generasi muda memiliki segudang ide cemerlang, namun belum mampu memaksimalkan monetisasi dari hobi mereka karena tidak adanya market match, yaitu kesesuaian antara produk yang diciptakan dengan apa yang benar-benar dibutuhkan masyarakat,” ujarnya.
Raditya menilai keberanian untuk mencoba dan ketekunan dalam melihat persoalan di sekitar sebagai peluang solusi merupakan modal utama untuk bertahan dan berkembang dalam industri kreatif.
Ia juga menekankan pentingnya mengenali kekuatan diri dibanding mencoba menguasai terlalu banyak hal sekaligus. Menurutnya, fokus pada satu kemampuan yang paling dikuasai dan terus mengembangkannya dapat menjadi nilai jual yang kuat dalam membangun bisnis.
Pandangan serupa disampaikan CEO brand parfum lokal HMNS, Rizky Arief. Ia menilai passion bukanlah bakat yang muncul begitu saja, melainkan sesuatu yang dibangun melalui proses belajar, riset pasar, dan konsistensi dalam mengeksekusi ide.
Rizky mengatakan pelaku usaha saat ini harus mampu memahami kebutuhan konsumen sekaligus membangun cerita dan imajinasi yang relevan agar produk memiliki daya tarik yang kuat di mata pasar.
“Di era digital, sebuah produk bisa dengan cepat menjadi viral, namun juga dapat dengan mudah tergeser oleh tren baru. Karena itu pelaku usaha harus mampu membaca perilaku konsumen dan terus menyesuaikan strategi bisnisnya,” katanya.
Diskusi tersebut mendapat respons positif dari kalangan mahasiswa dan generasi muda. Tercatat lebih dari 800 peserta mendaftar untuk mengikuti kegiatan yang membahas strategi membangun bisnis kreatif di era ekonomi digital tersebut.
Sementara itu, Pjs Rektor Universitas Pertamina Prof. Ir. Teknologi Djoko Triyono, M.Si menegaskan komitmen kampus dalam mencetak lulusan yang adaptif dan mampu menciptakan peluang usaha melalui penguatan ekosistem kewirausahaan.
Menurutnya, Universitas Pertamina telah menghadirkan program Inkubasi Bisnis sebagai wadah pendampingan bagi mahasiswa agar ide-ide inovatif yang dimiliki dapat berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan dan memiliki nilai ekonomi.
Hingga 2025, program Inkubasi Bisnis Universitas Pertamina tercatat telah mendampingi 62 tim usaha dengan total dukungan pendanaan mencapai Rp180 juta. (*)













