MEDAN (MAWARTA) – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional I Sumatera Utara mencatat lonjakan signifikan pada layanan angkutan petikemas selama Mei 2026.
Volume angkutan barang berbasis kereta api mencapai 27.787 ton atau meningkat 109 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar 13.265 ton.
Peningkatan tersebut menjadi sinyal positif terhadap pertumbuhan aktivitas logistik dan distribusi barang di Sumatera Utara yang semakin mengandalkan moda transportasi kereta api.
Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara Anwar Yuli Prastyo mengatakan tren positif tersebut menunjukkan semakin tingginya kepercayaan pelanggan terhadap layanan logistik berbasis kereta api yang dinilai lebih efisien, andal, dan mampu mendukung kelancaran distribusi barang.
“Angkutan petikemas melalui kereta api terus menunjukkan tren yang baik. Hal ini mencerminkan peningkatan kepercayaan pelanggan terhadap layanan logistik berbasis kereta api yang mampu mendukung kelancaran distribusi barang dari dan menuju berbagai kawasan industri maupun pelabuhan,” ujar Anwar.
Menurutnya, salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan angkutan petikemas adalah optimalisasi konektivitas di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun.
Kawasan industri berbasis kelapa sawit tersebut kini semakin terintegrasi dengan jaringan perkeretaapian yang mendukung kelancaran arus logistik menuju pelabuhan.
Secara kumulatif, selama periode Januari hingga Mei 2026, KAI Divre I Sumatera Utara telah mengangkut sebanyak 130.013 ton petikemas dari berbagai wilayah di Sumatera Utara.
Selain meningkatkan efisiensi distribusi barang, penggunaan moda kereta api juga dinilai mampu mengurangi beban lalu lintas di jalan raya. Anwar menjelaskan satu kontainer bermuatan 42 ton setara dengan kapasitas dua truk tronton.
Dengan rata-rata pengoperasian 54 gerbong petikemas setiap hari, KAI Divre I Sumatera Utara berkontribusi mengurangi potensi kepadatan lalu lintas hingga setara 108 truk tronton per hari di jalan raya.
Tak hanya memberikan manfaat ekonomi, angkutan barang berbasis kereta api juga dinilai lebih ramah lingkungan. Berdasarkan data Badan Energi Internasional (IEA), emisi karbon kereta api hanya berkisar 15 hingga 30 gram CO₂ per ton-kilometer, jauh lebih rendah dibandingkan angkutan truk yang mencapai 60 hingga 120 gram CO₂ per ton-kilometer.
“Kami optimistis angkutan logistik berbasis kereta api di Sumut akan terus berkembang. KAI akan terus meningkatkan keandalan layanan guna mendukung kebutuhan pelaku usaha sekaligus mewujudkan ekosistem distribusi barang yang efisien dan ramah lingkungan,” kata Anwar.
KAI Divre I Sumatera Utara menilai tren peningkatan angkutan petikemas tersebut menjadi bukti semakin pentingnya peran kereta api dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, konektivitas industri, dan distribusi logistik yang berkelanjutan di wilayah Sumatera Utara.
(Son)













