JAKARTA (MAWARTA) – Transformasi industri energi global membuka peluang karier yang semakin luas bagi generasi muda. Seiring meningkatnya penggunaan energi terbarukan, kebutuhan tenaga kerja profesional di sektor ini diproyeksikan terus bertambah hingga mencapai 42 juta pekerjaan pada 2050.
Melihat peluang tersebut, alumni Teknik Mesin Universitas Pertamina (UPER), Ramadhini Putri Jofansa, membagikan pengalaman sekaligus kiat sukses meniti karier di perusahaan multinasional kepada mahasiswa dan generasi muda yang ingin berkarier di industri energi.
Sejak 2024, Ramadhini berkarier sebagai Associate Technical Professional pada divisi Testing and Subsea di Halliburton, perusahaan penyedia layanan energi berskala global.
Dalam pekerjaannya, ia berkolaborasi dengan profesional dari berbagai negara sehingga dituntut memiliki kompetensi teknis sekaligus kemampuan beradaptasi di lingkungan kerja internasional.
Menurut Ramadhini, penguasaan bahasa Inggris menjadi salah satu modal utama untuk bersaing di perusahaan multinasional. Bahkan, kemampuan menguasai bahasa asing lainnya dinilai mampu membuka peluang karier yang lebih luas.
“Belajar bahasa juga berarti memahami budaya dan cara pandang masyarakatnya. Hal itu membuat kita lebih mudah beradaptasi saat bekerja bersama orang-orang dari berbagai negara,” ujarnya.
Selain kemampuan bahasa, Ramadhini menilai generasi muda perlu memiliki pola pikir berkembang (growth mindset). Perkembangan teknologi di industri energi berlangsung sangat cepat sehingga setiap tenaga profesional dituntut terus belajar dan meningkatkan kompetensi.
“Selalu ada teknologi, metode kerja, dan tantangan baru yang harus dipahami. Bagi saya, setiap perubahan adalah kesempatan untuk terus belajar dan berkembang,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun profesionalisme sejak masih duduk di bangku kuliah. Pengalaman mengikuti proyek, kerja kelompok, presentasi, hingga program magang dinilai sangat membantu dalam membentuk kemampuan komunikasi, penyelesaian masalah, dan kerja sama tim.
Ramadhini mengaku pengalaman magang selama enam bulan serta bekerja sebagai Mechanical Engineer di PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) selama dua tahun menjadi bekal penting sebelum akhirnya bergabung dengan Halliburton.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Pjs.) Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, M.Si., mengatakan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menjawab kebutuhan industri energi yang terus berkembang.
Menurutnya, Universitas Pertamina menerapkan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan industri, pembelajaran berbasis proyek, serta program magang yang terintegrasi melalui Career Development Center (CDC).
“Dengan bekal kompetensi teknis, kemampuan memecahkan masalah, kerja sama tim, dan pengalaman profesional, lulusan Universitas Pertamina diharapkan mampu menjadi talenta adaptif yang siap bersaing di perusahaan nasional maupun multinasional,” ujar Djoko.















