SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
NASIONAL

Mahasiswa UPER Ciptakan Teknologi Konstruksi Berbasis AR, Berpotensi Hemat Biaya Proyek hingga Rp588 Juta

×

Mahasiswa UPER Ciptakan Teknologi Konstruksi Berbasis AR, Berpotensi Hemat Biaya Proyek hingga Rp588 Juta

Sebarkan artikel ini
Tim Crystal meraih juara pertama dalam ajang Civil National Expo 2026 di Universitas Tarumanegara. (Dok. Uper)

JAKARTA (MAWARTA) – Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Universitas Pertamina (UPER) berhasil mengembangkan inovasi teknologi konstruksi berbasis Augmented Reality (AR) yang terintegrasi dengan Building Information Modeling (BIM) 5D.

Inovasi tersebut diklaim mampu meningkatkan efisiensi proyek pembangunan dengan potensi penghematan biaya hingga Rp588 juta dan memangkas waktu pelaksanaan proyek selama 41 hari.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Atas inovasi tersebut, Tim Crystal yang beranggotakan Dimas Agim Jamiat, Fikri Andika Ramadani, dan Fasha Al Ihsan sukses meraih Juara I pada ajang Civil National Expo (CNE) 2026, mengungguli 78 tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Inovasi tersebut hadir sebagai solusi atas berbagai tantangan yang masih sering dihadapi industri konstruksi di Indonesia, seperti kesalahan koordinasi, perubahan desain, hingga pekerjaan ulang (rework) yang berpotensi meningkatkan biaya sekaligus memperpanjang durasi pembangunan.

Dimas Agim Jamiat menjelaskan, teknologi yang dikembangkan timnya mengintegrasikan seluruh informasi proyek ke dalam satu model digital melalui BIM 5D, mulai dari desain bangunan, kebutuhan material, jadwal pekerjaan hingga estimasi biaya.

BACA JUGA:  Agus Andrianto Resmi Dilantik sebagai Wakapolri

Informasi tersebut kemudian divisualisasikan menggunakan teknologi Augmented Reality (AR) sehingga dapat diverifikasi langsung di lokasi proyek sebelum pekerjaan konstruksi dimulai.

“Teknologi ini membantu memastikan pekerjaan di lapangan tetap sesuai dengan desain sejak awal sehingga risiko kesalahan dan pekerjaan ulang dapat ditekan,” ujar Dimas.

Sebagai studi kasus, Tim Crystal menerapkan teknologi tersebut pada simulasi pembangunan rumah tinggal tiga lantai.

Melalui visualisasi AR, pekerja dapat melihat secara presisi posisi jalur pipa, dinding, hingga elemen struktur sebelum proses pengecoran dilakukan sehingga potensi kesalahan pekerjaan dapat diminimalkan.

Untuk mendukung sistem tersebut, tim memanfaatkan perangkat lunak Revit dan Navisworks yang kemudian diintegrasikan ke dalam platform BIM.

Melalui sistem itu, proses perhitungan volume pekerjaan, penyusunan jadwal pelaksanaan, hingga estimasi biaya dapat dilakukan secara lebih cepat, akurat, dan terkoordinasi.

Hasil simulasi menunjukkan metode tersebut berpotensi memberikan efisiensi yang signifikan.

Pada proyek pembangunan rumah tinggal senilai Rp5 miliar, teknologi tersebut diproyeksikan mampu menghemat biaya sekitar 11 persen atau setara Rp588 juta serta mempercepat penyelesaian proyek selama 41 hari dibandingkan target awal.

BACA JUGA:  Jasa Raharja Jamin Seluruh Korban Tabrakan Minibus Di Aceh

Dosen Teknik Sipil Universitas Pertamina sekaligus pembimbing Tim Crystal, Dr. Vani Arliani, S.T., M.T., mengatakan capaian tersebut merupakan hasil implementasi metode Project-Based Learning (PBL) yang mendorong mahasiswa menghasilkan solusi nyata bagi kebutuhan industri.

“Kami memfasilitasi mahasiswa agar tidak hanya memahami teori di kelas, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi yang aplikatif, efisien, dan relevan dengan perkembangan dunia konstruksi,” jelasnya.

Sementara itu, Penjabat Sementara Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. tech. Djoko Triyono, M.Si., menegaskan transformasi digital menjadi tantangan sekaligus peluang bagi dunia pendidikan tinggi.

Menurutnya, Universitas Pertamina terus memperkuat kurikulum berbasis teknologi agar lulusan tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu menghadirkan solusi inovatif yang dapat diterapkan di dunia industri.

Melalui inovasi tersebut, Universitas Pertamina berharap kontribusi mahasiswa dalam pengembangan teknologi konstruksi dapat mendorong percepatan transformasi digital sektor pembangunan di Indonesia sekaligus meningkatkan efisiensi pelaksanaan proyek pada masa mendatang. (*)