YOGYAKARTA – Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menunjukkan komitmennya dalam menciptakan lingkungan kampus yang sehat, inklusif, dan adaptif terhadap perubahan global.
Hal ini ditandai dengan peluncuran Buku Pegangan Relasi Sehat dan Platform UGM AI, yang diresmikan pada Kamis (17/7/2025) di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM.
Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, dalam sambutannya menegaskan bahwa buku pegangan ini lahir dari kesadaran kolektif akan pentingnya membangun relasi sosial yang sehat di lingkungan akademik yang majemuk.
“Mahasiswa, tenaga kependidikan, dan dosen di UGM berasal dari berbagai latar belakang sosial, budaya, dan ekonomi. Tanpa panduan yang jelas, potensi munculnya relasi yang tidak sehat cukup besar. Buku ini kami harapkan menjadi rujukan bersama dalam membentuk interaksi yang harmonis dan berkeadilan,” ujarnya.
Di saat yang sama, UGM juga memperkenalkan UGM AI, platform pembelajaran bahasa Inggris berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi bahasa asing mahasiswa.
Platform ini menyediakan modul pembelajaran mulai dari tes penapisan awal, latihan materi, hingga akses sumber tambahan.
“Kami ingin lulusan UGM mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris secara aktif, agar daya saing mereka meningkat di level global,” tambah Prof. Ova.
Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Prof. Wening Udasmoro, menyampaikan bahwa Buku Pegangan Relasi Sehat merupakan yang pertama di UGM yang secara khusus membahas interaksi kampus yang bebas dari kekerasan, diskriminasi, dan ketimpangan kuasa.
“Buku ini tidak hanya teoritis, tapi juga aplikatif. Kami menyajikan contoh konkret dan ilustrasi yang bisa langsung diterapkan dalam kehidupan kampus,” jelasnya.
Sementara itu, Dr. Mardhani Riasetiawan, Kepala Biro Transformasi Digital UGM, menuturkan bahwa pengembangan platform UGM AI melibatkan tim dari Fakultas Ilmu Budaya.
“Sistem ini tidak hanya adil, tetapi juga dirancang untuk semua kalangan mahasiswa, tanpa memandang kemampuan awal,” katanya.
Ke depan, platform ini akan diperluas menjadi MOOC (Massive Open Online Course) berbasis AI untuk berbagai bahasa asing lainnya, memungkinkan mahasiswa belajar secara mandiri dan fleksibel.
Kedua program ini mempertegas peran UGM dalam mengintegrasikan kemajuan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan dalam dunia pendidikan tinggi.
Tidak sekadar mencetak lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter kuat dan inklusif dalam membangun masa depan bangsa. (Red)













