SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
NUSANTARA

Ketika Kerja Keras Mengalahkan Keterbatasan: Kisah Dr. Tommy Sinulingga

×

Ketika Kerja Keras Mengalahkan Keterbatasan: Kisah Dr. Tommy Sinulingga

Sebarkan artikel ini
Dr. Tommy Aditia Sinulingga saat memaparkan disertasi dalam sidang promosi doktor di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, 13 April 2026.

Medan (MAWARTA) – Tidak semua perjalanan besar dimulai dari tempat yang mudah. Bagi Dr. Tommy Aditia Sinulingga, S.H., M.H., CTL, langkah menuju gelar doktor justru dimulai dari kehidupan sederhana sebagai anak petani di Tanah Karo.

Di balik capaian akademiknya yang nyaris sempurna, tersimpan kisah panjang tentang kerja keras, ketekunan, dan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah nasib.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Tommy lahir dari keluarga petani. Ayahnya hanya lulusan SMP, sementara ibunya lulusan SD. Namun di tengah keterbatasan itu, satu hal yang tidak pernah kurang: “semangat orang tua untuk pendidikan anak-anaknya”.

Sejak kecil, Tommy sudah terbiasa bekerja keras. Ia menggembala ternak, membantu orang tua, bahkan saat anak-anak lain seusianya masih asyik bermain.

Kebiasaan itu tidak berhenti saat ia beranjak remaja bahkan terus ia jalani hingga duduk di bangku SMA dan kuliah.

Dari situlah ia belajar satu hal penting: hidup tidak selalu mudah, tapi bisa diperjuangkan.

Tahun 2012 menjadi titik awal perjalanan akademiknya. Tommy mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi dengan dua pilihan: Kedokteran dan Hukum.

Hasilnya, ia diterima di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU).

Awalnya, itu bukan pilihan yang ia inginkan. Cita-citanya saat itu adalah menjadi pilot. Namun situasi dan pertimbangan keluarga termasuk kekhawatiran setelah peristiwa jatuhnya pesawat Sukhoi membuat orang tuanya mengarahkan Tommy ke jalur yang lebih “aman”.

Dengan setengah hati, ia pun memulai kuliah di Fakultas Hukum.

Semester awal bukan masa yang mudah. Tommy sempat merasa bingung tentang masa depan dan arah hidupnya.

Namun seiring waktu, semuanya mulai berubah.

Ia mulai membantu teman, saudara, hingga tetangga dalam memberikan pendapat hukum. Dari situ, ia melihat langsung bagaimana ilmu yang dipelajarinya bisa bermanfaat bagi orang lain.

Inspirasi juga datang dari para seniornya anak-anak petani yang berhasil menjadi dosen, bahkan guru besar.

Perlahan tapi pasti, semangatnya tumbuh.

Dengan tekad kuat, Tommy mulai fokus. Ia belajar sungguh-sungguh hingga berhasil menyelesaikan:

•S1 Hukum USU dalam 3 tahun 2 bulan (IPK 3,65)
•S2 Hukum USU (IPK 3,85) pada tahun 2018

Keinginannya untuk menjadi dosen semakin kuat. Namun, perjalanan hidupnya justru membawanya lebih jauh.

Saat menempuh pendidikan S2, sebuah pengalaman mengubah arah hidupnya.

Ia membantu seorang teman yang terjerat masalah utang dengan rentenir. Meski belum resmi menjadi pengacara, ia berhasil menyelesaikan persoalan tersebut.

Pengalaman itu membekas dalam dirinya.

“Saya merasa seperti ada panggilan. Seolah-olah Tuhan menunjukkan bahwa saya harus menjadi pembela kebenaran, membantu orang-orang yang tertindas,” jelasnya.

Dari situlah, Tommy memutuskan untuk menekuni dunia advokat.

Ia mengikuti Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) di PERADI, dan resmi disumpah sebagai advokat pada 13 Maret 2020, setelah memenuhi syarat usia.

Tahun 2020 menjadi fase penting dalam hidupnya.

Tommy tidak hanya menjadi advokat, tetapi juga berhasil mewujudkan cita-citanya sebagai dosen.

Bahkan sebelumnya, pada tahun 2019, ia sudah mendirikan kantor hukum yang kemudian berkembang menjadi: “Tommy Sinulingga Law Firm“.

Meski telah sukses, ia tetap dikenal sebagai sosok yang rendah hati.

Ia tidak memilih-milih kasus. Bahkan banyak klien dari kalangan tidak mampu yang ia bantu secara gratis.

Di lingkungan kampus, ia juga dipercaya menjadi:
• Direktur Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Fakultas Hukum USU

Ratusan perkara, termasuk kasus besar, telah ia tangani.

Dengan segala kesibukan dan pengabdiannya, Tommy tetap melanjutkan pendidikan hingga jenjang tertinggi.

Pada 13 April 2026, ia resmi meraih gelar doktor hukum dari Universitas Sumatera Utara. Dengan IPK 3,98 (nyaris sempurna), Predikat Sangat Memuaskan di Usia 32 tahun

Sebuah pencapaian luar biasa bagi seorang anak petani dari Tanah Karo. (Tison)

BACA JUGA:  Rapat Persiapan HUT Dekranas Ke-43 di Medan