MAWARTANEWS.com, Surabaya |
Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof Dr Eng Siti Machmudah ST MEng, merintis solusi ramah lingkungan dalam industri obat dengan mengembangkan teknologi fluida superkritis.
Dalam orasinya, Prof. Siti Machmudah memberikan sorotan atas dampak lingkungan dari penggunaan senyawa organik dalam pelarutan bahan baku obat.
Machmudah, yang dikenal sebagai Profesor yang berdedikasi di Departemen Teknik Kimia ITS, menggagas penggunaan fluida superkritis sebagai solusi atas ketergantungan Indonesia pada produk obat impor.
“Inovasi fluida superkritis tidak hanya untuk memajukan kemandirian bahan baku obat di Indonesia, tetapi juga sebagai langkah nyata menjaga lingkungan,” ujarnya penuh semangat di Surabaya, Rabu (29/11/2023).
Fluida superkritis, khususnya karbon dioksida (CO2) dan air subkritis, dipilih oleh Machmudah karena sifatnya yang ramah lingkungan. CO2, selain mudah didapatkan, juga dapat mengurangi emisi gas rumah kaca yang berkontribusi pada pemanasan global.
Dalam penelitiannya, Machmudah menggunakan CO2 superkritis untuk mengekstrak bahan baku obat antikanker dari tanaman herbal, termasuk amigdalin dari buah loquat. Tak hanya itu, CO2 superkritis juga diterapkan dalam proses mikronisasi bahan baku obat, meningkatkan kemampuan penghantaran obat dalam tubuh.
Profesor Machmudah menyampaikan bahwa inovasinya bukan hanya terbatas pada obat antikanker, melainkan mencakup berbagai senyawa seperti beta sitosterol, licopen, lutein, beta karoten, astaxanthin, dan senyawa terpenoid.
Selain itu, air subkritis digunakan untuk mengekstrak bahan baku obat dari tanaman herbal seperti daun kelor dan kumis kucing yang memiliki manfaat kesehatan.
Tidak hanya sebatas bahan baku obat, Machmudah melangkah lebih jauh dengan menggagas penggunaan teknologi CO2 superkritis untuk produksi minyak atsiri. Minyak atsiri hasil ekstraksi tanaman dengan CO2 superkritis tetap mempertahankan kualitas bau, warna, dan sifat fisik, membuatnya ideal untuk aromaterapi.
Profesor Machmudah berkomitmen untuk terus bekerja sama dengan industri farmasi guna mempercepat penggunaan inovasinya. Ia melihat potensi pengembangan tidak hanya pada sektor farmasi, tetapi juga pada industri makanan dan kosmetik.
Reporter: Dedy Hutajulu













