SERGAI – Siapa sangka, dari sudut tenang Desa Kerapuh, Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai, muncul sebuah revolusi pertanian yang menggemparkan pasar hortikultura nasional.
Momentum ini ditandai dengan panen raya perdana buah melon oleh Kelompok Hortikultura Tani Jaya Kerapuh, Rabu (04/06/2025), dihadiri langsung oleh Bupati Serdang Bedagai H. Darma Wijaya, Kepala Dinas Pertanian Dedi Iskandar, Direktur Utama PT Socfindo, tenaga ahli dari balai benih asal Australia, serta Ketua DPC Lingkar Nusantara (LISAN) Sergai, Sujarwadi, bersama rombongan.
Di balik kesuksesan ini berdiri sosok visioner: Boiren , tokoh lokal yang memimpin inisiatif pertanian modern di desa. Dengan lahan seluas total 10 hektar dan 2 hektar di antara tanaman melon yang ditanami, Boiren tidak hanya menggelar panen, tapi juga mendeklarasikan bahwa desa kecil pun bisa berbicara di panggung ekspor global.
“Selama ini kita berpikir padi dan cabai adalah andalan. Tapi melon punya kelas tersendiri. Permintaan globalnya tinggi, dan kita punya potensi itu,” ujar Boiren saat diwawancarai di tengah kemeriahan panen raya yang mencakup ratusan tamu undangan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, produksi melon nasional pada tahun 2020 mencapai 15,7 juta kilogram. Di tengah meningkatnya tren konsumsi buah segar dan sehat secara global, melon lokal Indonesia memiliki peluang ekspor yang sangat menjanjikan.
Boiren memanfaatkan peluang ini dengan strategi tanam modern dan pendekatan pemberdayaan masyarakat. Hasilnya, panen perdana ini berhasil memproduksi sekitar 130.000 kilogram melon. Dengan harga pasar rata-rata Rp10.000 per kilogram, potensi omzet mencapai lebih dari Rp1 miliar . Padahal, biaya produksi hanya sekitar Rp200 juta.
Namun, bagi Boiren, kesuksesan ini tidak hanya diukur dari nilai ekonomi. Hal terpenting adalah pemberdayaan masyarakat desa .
“Kami melibatkan 50 petani lokal ibu-ibu dan bapak-bapak dari desa ini. Ini bukan sekedar bisnis, tapi ladang rezeki. Bukti bahwa berkah bisa datang dari tanah sendiri,” tutur Boiren, penuh syukur.
Hal ini juga disampaikan oleh Bupati Serdang Bedagai, H. Darma Wijaya, yang menyebut bahwa inisiatif ini penting kemandirian pangan daerah.
Sebagai Pembina Lingkar Nusantara Sergai, Boiren memimpikan lebih dari sekedar mengekspor melon. Ia ingin menjadikan pertanian hortikultura sebagai ikon pertumbuhan ekonomi desa. Dari ladang kecil di ujung Serdang Bedagai, ia menanam harapan besar: bahwa Indonesia bisa menjadi pemimpin pasar hortikultura dunia .
“Pak Boiren ini bukan hanya petani. Ia adalah pionir. Dan mungkin juga pemantik semangat bagi desa-desa lain di Indonesia untuk berpikir besar dan bertindak lebih berani,” tutup Ketua LISAN Sergai, Sujarwadi. (Angga Waluyo)













