Jakarta (MAWARTA) – Abrasi pesisir di Provinsi Riau kian mengkhawatirkan. Data DLHK Riau (2024) mencatat hampir seperempat dari total 2.090 kilometer garis pantai telah terkikis.
Kondisi paling dramatis terjadi di Kelurahan Mundam, Dumai, di mana jarak pemukiman warga dengan pantai yang semula 250 meter kini hanya tersisa sekitar lima meter.
Situasi ini membuat warga hidup dalam kecemasan, terutama saat gelombang pasang datang. Rumah dan lahan mereka terancam tersapu air laut kapan saja.
Fenomena di Riau mencerminkan persoalan nasional. Peta Mangrove Nasional 2023 mencatat Indonesia memiliki 3,4 juta hektare mangrove—terluas di dunia.
Namun, sekitar 1 juta hektare hilang dalam dua abad terakhir, setara 13 kali luas Singapura (Ilman, 2016).
Kehilangan mangrove memperparah abrasi sekaligus memicu kerugian miliaran rupiah dari sektor perikanan dan pariwisata.
Menjawab tantangan ini, Universitas Pertamina (UPER) berkolaborasi dengan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU II Dumai dan Pemerintah Kota Dumai menginisiasi Gerakan Penanaman Mangrove di pesisir Mundam.
Program ini melibatkan warga, mahasiswa, dan pelajar untuk memperkuat partisipasi publik dalam menjaga ekosistem.
Wakil Wali Kota Dumai, Sugiyarto, menekankan pentingnya generasi muda dalam aksi ini.
“Inisiatif ini bukan hanya menjaga lingkungan, tetapi juga membentuk karakter generasi peduli. Kolaborasi pendidikan, industri, dan pemerintah diharapkan menciptakan pesisir yang tangguh,” ujarnya.
Kegiatan ini juga menghadapi tantangan besar: ombak yang terus menggerus pantai membuat bibit mangrove sulit bertahan. Untuk itu, tim Agent of Change (AOC) KPI RU II Dumai merancang pemecah ombak dari limbah ban mobil.
“Gelombang harus diredam lebih dulu agar bibit mangrove bisa tumbuh optimal,” jelas Syahril Aditya Ginanjar, Ketua Tim AOC KPI RU II Dumai.
Puncak kegiatan ditandai dengan penanaman ratusan bibit mangrove di sepanjang lima kilometer pesisir Mundam. Warga, mahasiswa, dan siswa menanam bersama, menciptakan pemandangan kolaborasi lintas generasi.
Selain penanaman, UPER menghadirkan edukasi lingkungan. Dosen dari program studi Manajemen, Teknik Sipil, dan Kimia merancang materi tentang abrasi dan pentingnya mangrove.
Edukasi ini diikuti warga Mundam, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Dumai, serta siswa SMP Negeri 20 Mundam.
Ketua pelaksana sekaligus dosen Manajemen UPER, Arif Murti Rozamuri, Ph.D., menegaskan gerakan ini bukan hanya seremonial.
“Mangrove adalah benteng alami dari abrasi sekaligus penopang ekonomi lokal. Dengan pendekatan lintas disiplin, UPER memastikan kontribusi berlanjut lewat pendidikan, penelitian, dan pendampingan,” ujarnya.
Rektor UPER, Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU., menambahkan bahwa program ini wujud nyata misi kampus dalam pembangunan berkelanjutan.
“Universitas Pertamina berkomitmen menjadi bagian dari solusi krisis lingkungan. Kami ingin menyiapkan generasi yang bukan hanya unggul akademik, tetapi juga peduli keberlanjutan bumi,” tuturnya. (Tison)













