Jakarta (MAWARTA) – Indonesia terus memacu transformasi menuju ekonomi hijau untuk mencapai target Net Zero Emission 2060.
Di tengah kontribusi besar sektor industri terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, tantangan pengurangan emisi menjadi fokus utama berbagai pihak, termasuk kalangan akademisi.
Menjawab tantangan tersebut, Universitas Pertamina (UPER) melalui Global GreenChem Innovation and Network Programme (GGINP) menyelenggarakan kegiatan Green Chemistry for Industrial Excellence (GCIE) 2025, sebagai langkah nyata memperkuat praktik industri hijau dan inovasi berkelanjutan.
Kegiatan ini menjadi ajang kolaborasi strategis antara pelaku industri, akademisi, dan pemerintah dalam mempercepat penerapan green chemistry, efisiensi sumber daya, serta teknologi rendah karbon.
“Transformasi industri berkelanjutan kini menjadi urgensi nasional untuk mendukung target pembangunan berkelanjutan. GGINP bukan sekadar forum inovasi, tetapi juga langkah strategis untuk memperkuat kebijakan carbon neutral dan penerapan green chemistry sebagai fondasi industri masa depan,” ujar Dr. Sri Bimo Pratomo, Sekretaris Ditjen Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Perindustrian, Senin (20/10/2025).
Senada dengan itu, Erik Teguh Primiantoro, Staf Ahli Bidang Diplomasi Lingkungan Kementerian LHK, menegaskan bahwa penerapan prinsip kimia hijau mampu meningkatkan efisiensi dan pendapatan industri secara signifikan.
“Kimia hijau bukan hanya tentang lingkungan, tapi juga efisiensi ekonomi. Dengan mengelola sumber daya dan limbah secara benar, industri bisa meningkatkan pendapatan sekaligus menjaga bumi,” ungkapnya.
Data United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) (2023) menunjukkan, penerapan kimia hijau dapat menurunkan konsumsi energi hingga 30% dan emisi karbon hingga 40%.
Sementara World Bank (2023) melaporkan, industri yang mengadopsi green chemistry mencatat peningkatan keuntungan 10–20% dalam tiga tahun.
Kegiatan GCIE 2025 diikuti lebih dari 50 peserta dari berbagai sektor — mulai dari industri kimia, pemerintah, hingga akademisi.
Forum ini juga memperkuat jejaring internasional melalui kolaborasi UNIDO dan Yale University, yang fokus mengembangkan riset serta implementasi kimia hijau di Indonesia.
Sebagai kampus yang berlokasi di jantung kawasan industri, Universitas Pertamina turut aktif mendorong penerapan prinsip kimia hijau melalui kegiatan riset dan program inkubasi bisnis.
Rektor UPER, Prof. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU, menjelaskan bahwa kampus tengah menyiapkan peluncuran program GreenLink Demo Day: Greenovate Accelerator pada 25 Oktober 2025.
“Program ini menjadi wadah inkubasi bisnis untuk mendorong pengembangan usaha berkelanjutan. Kami bekerja sama dengan UNIDO, Yale University, dan Kemenperin agar kolaborasi ini berdampak nyata bagi industri hijau nasional,” tutupnya.
Dengan langkah konkret tersebut, Universitas Pertamina menegaskan komitmennya sebagai pelopor transformasi pendidikan tinggi yang berpihak pada pembangunan berkelanjutan dan industri ramah lingkungan. (Tison)














