SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
INOVASINASIONAL

Universitas Pertamina Kembangkan Komposter Putar di Bogor, Solusi Cepat Ubah Sampah Jadi Kompos

×

Universitas Pertamina Kembangkan Komposter Putar di Bogor, Solusi Cepat Ubah Sampah Jadi Kompos

Sebarkan artikel ini
Penyerahan unit tempat sampah pilah dari tim PkM UPER kepada Desa Barengkok. (Foto: Ist/Mawarta)

BOGOR (MAWARTA) – Sampah rumah tangga masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Dari total 70 juta ton sampah nasional per tahun, sekitar 62 persen merupakan sampah organik yang sebagian besar belum terkelola dengan baik.

Melihat tantangan tersebut, tim dosen dan mahasiswa Universitas Pertamina (UPER) menggagas program Gerakan Kompos Mandiri di Desa Barengkok, Kabupaten Bogor, dengan memperkenalkan inovasi “Komposter Putar” yang mampu mengubah limbah rumah tangga menjadi pupuk kompos dalam waktu singkat.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Program ini merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Pertamina. Melalui gerakan ini, tim melakukan sosialisasi pemilahan sampah organik dan anorganik, sekaligus melatih warga menggunakan komposter putar.

BACA JUGA:  Presiden Prabowo Lantik Pasangan Dambaan di Istana, Masyarakat Sergai Sambut Antusias

“Desa Barengkok dipilih karena warganya memiliki potensi besar untuk terlibat dalam gerakan peduli lingkungan, namun masih terbatas akses terhadap teknologi pengelolaan sampah yang praktis. Komposter ini kami rancang sederhana dan ergonomis agar bisa digunakan semua kalangan, termasuk ibu rumah tangga dan lansia,” jelas Adhitya Ryan, Ketua Tim PkM Gerakan Kompos Mandiri, Selasa (26/8).

Komposter putar memiliki desain berupa tong berporos di atas rangka besi kokoh dengan tuas pemutar samping.

Dibandingkan komposter statis, alat ini lebih bersih, nyaman digunakan, tertutup rapat sehingga mengurangi bau, sekaligus mencegah masuknya serangga.

Selain itu, sistem rotasi membuat proses pencampuran lebih merata dan sirkulasi udara lebih optimal. Hasilnya, pupuk kompos bisa dihasilkan hanya dalam 2–4 minggu, jauh lebih cepat dibandingkan metode statis yang membutuhkan hingga 3 bulan.

BACA JUGA:  Wali Kota Sawahlunto Lepas Kepala BPJS Ketenagakerjaan Solok, Apresiasi Dedikasi dan Kolaborasi Sosial

“Dengan alat ini, warga dapat mengolah sampah organik langsung dari rumah. Pupuk yang dihasilkan bisa digunakan untuk kebun rumah, pertanian warga, bahkan berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan,” tambah Ryan.

Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU., menegaskan program ini sejalan dengan pengembangan 11 Center of Excellence (CoE) di bidang energi, lingkungan, dan keberlanjutan.

“Inovasi seperti komposter putar adalah contoh nyata bagaimana hasil riset dan pembelajaran lintas bidang bisa diterapkan langsung di masyarakat untuk mendorong kemandirian dan kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Prof. Wawan. (*/Red)