SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
NUSANTARA

Unimed Lepas 10.000 Mahasiswa Relawan Bencana Sumatra, Terbanyak dari Sumut

×

Unimed Lepas 10.000 Mahasiswa Relawan Bencana Sumatra, Terbanyak dari Sumut

Sebarkan artikel ini

MEDAN – Universitas Negeri Medan (Unimed) menjadi tuan rumah pelepasan 10.000 mahasiswa relawan bencana dari berbagai perguruan tinggi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Pelepasan dilakukan secara simbolis oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) di Auditorium Unimed, Rabu (28/1/2026).

Ribuan mahasiswa yang hadir dilepas untuk terjun langsung mendukung pemulihan wilayah Sumatra yang terdampak banjir bandang dan longsor pada penghujung 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari program nasional bertajuk *“Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemulihan Dampak Bencana di Sumatra.”*

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Berdasarkan data Kemdiktisaintek, Unimed menjadi perguruan tinggi dengan jumlah proposal terbanyak dari Sumatra Utara. Unimed mengajukan tujuh proposal, disusul Universitas Sari Mutiara dengan lima proposal dan Universitas Sumatra Utara (USU) empat proposal. Sejumlah perguruan tinggi lain seperti Institut Kesehatan Deli Husada, UMSU, dan Universitas Satya Terra Bhineka masing-masing mengajukan tiga proposal.

Setiap proposal melibatkan sekitar 50 mahasiswa dengan pendampingan tiga hingga empat dosen pembimbing. Secara keseluruhan, program ini melibatkan 18 perguruan tinggi di Sumatra Utara dengan sekitar 2.000 mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu.

BACA JUGA:  Prof. Syawal Gultom Bekali Mahasiswa Unimed Soal Integritas dan Gagasan “Membangun Negeri dari Sekolah”

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam program ini bukan sekadar aksi kemanusiaan, melainkan bagian dari proses pembelajaran yang utuh. Setiap kelompok mahasiswa didampingi dosen dengan kompetensi riset dan inovasi agar penerapan teknologi di lapangan berbasis kajian ilmiah dan sesuai kebutuhan masyarakat.

Menurut Fauzan, penempatan mahasiswa disesuaikan dengan kebutuhan daerah terdampak. Sebaran relawan terbesar berada di Kabupaten Aceh Tamiang (Aceh), Kabupaten Tapanuli Selatan (Sumatra Utara), dan Kabupaten Agam (Sumatra Barat).

Salah satu kekuatan utama program ini adalah penerapan inovasi teknologi tepat guna hasil riset perguruan tinggi. Intervensi yang dilakukan mencakup pemulihan ekonomi masyarakat, penguatan layanan publik, pemenuhan kebutuhan kesehatan, hingga peningkatan keterampilan warga pascabencana. Di sektor pangan, mahasiswa mendorong ketahanan pangan berkelanjutan melalui diversifikasi pangan lokal, pertanian pascabencana, serta pengembangan hidroponik di lahan terbatas.

Selain itu, mahasiswa juga mengimplementasikan teknologi penyediaan air bersih, pencahayaan tenaga surya, pemulihan akses listrik, pendampingan kesehatan dasar, layanan psikososial, serta trauma healing bagi kelompok rentan.

BACA JUGA:  Wali Kota Medan Pimpin Ziarah Peringatan Hari Pattimura

Program ini mengadopsi pendekatan *social impact challenge*, yakni pemberdayaan masyarakat berbasis tantangan nyata yang diselesaikan melalui kolaborasi lintas disiplin antara mahasiswa dan dosen. Secara regulasi, program ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi dan menjadi bagian dari prioritas Presiden RI Prabowo Subianto dalam mendorong peran aktif generasi muda.

Rektor Unimed, Prof. Dr. Baharuddin, ST., M.Pd., menyatakan bahwa kepercayaan menjadi tuan rumah pelepasan relawan sejalan dengan komitmen Unimed sebagai kampus berdampak. Ia menegaskan pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian integral dari Tridarma Perguruan Tinggi.

“Kami memandang kegiatan ini bukan sekadar seremoni, tetapi upaya menghadirkan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat terdampak bencana,” ujar Prof. Baharuddin.

Ia juga berpesan agar para mahasiswa menjadikan kegiatan ini sebagai ruang belajar kehidupan, hadir dengan empati, rendah hati, dan semangat kolaborasi sehingga kehadiran mereka benar-benar memberi harapan bagi proses pemulihan masyarakat Sumatra. (*)