MAWARTANEWS.com, Tanah Karo|
Yariani, seorang siswi berbakat, terpaksa menghentikan pendidikannya di salah satu SMA Negeri di Kabanjahe setelah mengalami penghinaan yang berulang kali dari teman sekelasnya.
Dalam pertemuan dengan awak media di rumah sepupunya di sekitar Jalan Veteran, Yariani dengan berlinang air mata menceritakan kekecewaannya.
Awalnya, ia sangat gembira karena berhasil diterima sebagai siswi di salah satu SMA Negeri di Kabanjahe, sebuah prestasi yang ia perjuangkan sejak SMP dengan harapan meraih peringkat terbaik dan dapat masuk ke sekolah tersebut.
Namun, ia tidak pernah mengira bahwa ia akan menghadapi bullyan, sehingga ia memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah.
“Saya sempat mengikuti proses pembelajaran selama kurang lebih 4 bulan. Awalnya, saya sangat senang bisa diterima di SMA Negeri tersebut. Namun, ketika saya mulai mendapatkan ejekan dari teman sekelas saya, saya memilih untuk berhenti karena tidak tahan mendengar ejekan tersebut setiap hari,” ucap Yariani sambil berlinang air mata.
Ketika ditanya apakah Yariani pernah melaporkan kejadian ini kepada pihak sekolah, ia mengaku tidak berani karena takut mendapat teguran.
Yariani juga mengungkapkan bahwa tidak ada satupun guru atau teman sekelas yang datang menanyakan alasan mengapa ia tidak lagi hadir di sekolah, hanya surat panggilan dan surat yang menyatakan bahwa ia telah dikeluarkan dari sekolah.
“Saya tidak berani melapor kepada guru-guru, takutnya malah kena marah. Sejak saya tidak sekolah lagi, tidak pernah ada guru atau teman sekelas yang datang menanyakan mengapa saya tidak sekolah lagi,” ungkap Yariani.
Kejadian intimidasi yang dialami Yariani sangat berdampak traumatis, dan ia berharap agar kejadian serupa tidak menimpa pelajar lainnya. Menurutnya, pengalaman ini sangat berpengaruh pada kesehatan mental korban bullying.
“Hampir setiap hari saya menjadi korban bully. Teman-teman memanggil saya dengan sebutan suku yang saya anut, bukan nama saya. Awalnya, hal ini terjadi ketika kami belajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang membahas tentang keragaman suku. Sejak saat itu, teman sekelas saya tidak pernah memanggil nama saya, melainkan memakai panggilan suku saya, Pak,” cerita Yariani dengan sedih sambil mengungkapkan bahwa ia tidak akan kembali ke SMA N tersebut karena trauma yang dialaminya.
Sementara itu, Lesman Tarigan, Kepala Sekolah SMA Negeri yang ada di Kabanjahe, membantah adanya tindakan bullying terhadap salah satu siswanya yang memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya di sekolah tersebut.
Ketika dihubungi melalui aplikasi WhatsApp untuk mengkonfirmasi informasi tersebut, Lesman Tarigan membantah adanya kasus bullying yang dilaporkan oleh Yariani.
Menurutnya, setelah melakukan penelusuran dengan berbicara kepada teman sekelas dan guru pembimbing, mereka menyatakan bahwa Yariani tidak pernah menjadi korban bullying.
“Kami telah melakukan penyelidikan dan berbicara dengan teman sekelas dan guru BP, mereka mengklarifikasi bahwa Yariani tidak pernah mengalami bullying,” pungkas Lesman.
Perlu dicatat bahwa pernyataan kepala sekolah ini bertentangan dengan pengakuan Yariani yang secara tegas menyebutkan bahwa ia mengalami penghinaan dan bullying yang berdampak negatif terhadap keputusannya untuk tidak melanjutkan sekolah tersebut.
Kedepannya, diharapkan adanya upaya lebih lanjut dalam menangani isu-isu bullying di sekolah agar kejadian serupa dapat dicegah dan melindungi kesejahteraan siswa.
Keterbukaan dan dukungan dari pihak sekolah merupakan langkah penting dalam menangani masalah seperti ini demi menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan mendukung bagi semua siswa. (Bintang Surbakti)













