MAWARTANEWS.com, SURABAYA |
Perkembangan teknologi di bidang kesehatan semakin memperkuat langkah keberlanjutan dalam pengembangan modalitas diagnostik. Profesor ke-177 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof Endarko SSi MSi PhD, memimpin upaya canggih dengan menghadirkan “fantom” atau maneken medis untuk mendorong kemandirian jaminan mutu dan kontrol kualitas modalitas diagnostik di Indonesia.
Fantom, sebagai model tiruan yang meniru bentuk anatomi dan jaringan manusia, menjadi inovasi kritis dalam memperkirakan dosis radiasi yang diterapkan pada pasien. Prof Endarko menegaskan kebutuhan akan kemandirian dalam produksi fantom di Indonesia untuk meningkatkan efisiensi diagnostik.
Dalam orasi ilmiahnya, “Pengembangan Fantom dalam Aplikasi Fisika Medis untuk Kemandirian Jaminan Mutu dan Kontrol Kualitas di Indonesia,” Prof Endarko menggarisbawahi pentingnya fantom dalam menentukan dosis radiasi yang aman bagi pasien. Keberhasilannya mengembangkan fantom tiroid dan fantom payudara menjadi langkah signifikan dalam mendukung terapi, diagnosis, dan proteksi radiasi di bidang kedokteran nuklir.
“Fantom tiroid diharapkan menjadi evaluasi dosis aman pada terapi iodium radioaktif, sementara fantom payudara memberikan jaminan kualitas radioterapi pada kasus kanker payudara,” ungkap Prof Endarko, Kepala Laboratorium Fisika Medis dan Biofisika di ITS, Selasa (28/11/2023).
Pengembangan fantom medis anak yang sesuai dengan ukuran anak Indonesia menjadi langkah lanjutan untuk mengatasi minimnya produsen fantom medis di Indonesia. Prof Endarko menyoroti pentingnya fantom yang sesuai ukuran untuk menjamin ketepatan dosis yang diberikan kepada anak.
“Risiko paparan radiasi pengion pada ibu hamil juga menjadi perhatian utama. Fantom yang menyerupai bentuk nyata ibu hamil menjadi krusial dalam keadaan darurat yang membutuhkan peran radiasi pengion,” tambahnya.
Prof Endarko menekankan bahwa pengembangan fantom di Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. Keberadaan fantom di setiap rumah sakit di Indonesia diharapkan bukan hanya sebagai jaminan mutu tetapi juga langkah nyata menuju kemandirian diagnostik dan terapi.
Reporter: Dedy Hu













