SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
NASIONAL

Perang Tanpa Peluru: Ahmad Syahroni Ungkap Ancaman Ghazwul Fikri bagi Generasi Muda

×

Perang Tanpa Peluru: Ahmad Syahroni Ungkap Ancaman Ghazwul Fikri bagi Generasi Muda

Sebarkan artikel ini
Ahmad Syahroni. (Foto: mawartanews/Istimewa)

Dairi, Mawartanews – Ketika dunia bergerak cepat dengan teknologi dan globalisasi, ada satu ancaman yang nyaris tak disadari banyak orang: Ghazwul fikri (غَزْوُ الْفِكْرِ), perang pemikiran yang menyusup diam-diam ke dalam pikiran dan hati, terutama generasi muda. Ancaman ini tidak membawa senjata, tapi mampu melumpuhkan bangsa dari dalam.

Hal itu disampaikan oleh Ahmad Syahroni, seorang pendidik muda dan aktivis literasi karakter asal Kabupaten Dairi.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Ia menyebut Ghazwul Fikri sebagai bentuk penjajahan paling halus yang dampaknya bisa lebih merusak dari perang konvensional.

“Ini adalah perang tanpa suara tembakan. Ia masuk lewat media, tontonan, gaya hidup, bahkan pendidikan. Banyak dari kita mulai meninggalkan nilai-nilai luhur demi sesuatu yang terlihat modern atau keren,” ujarnya saat ditemui di sela-sela kegiatan literasi di Sidikalang.

BACA JUGA:  Gubsu dan Badan Otorita Agar Segera Tuntaskan Penanggulangan Ikan Red Devil di Danau Toba

Menurut Syahroni, kekuatan sebuah bangsa tidak hanya terletak pada kekuatan ekonomi atau politik, tetapi pada daya tahan moral dan pemikiran masyarakatnya. Ketika masyarakat mulai kehilangan jati diri, maka arah bangsa ikut limbung.

Ia menyayangkan perubahan pola pikir generasi muda yang mulai menjauh dari akar budaya dan spiritualitas yang selama ini menjadi fondasi kehidupan sosial masyarakat Indonesia.

“Kalau kita kehilangan kompas dalam berpikir dan bersikap, kita akan mudah diombang-ambing oleh arus zaman. Cerdas secara akademik saja tidak cukup. Kita butuh karakter,” tambahnya.

Sebagai seorang guru, Syahroni berjuang menyampaikan nilai-nilai kebajikan kepada pelajar melalui pendekatan literasi karakter.

Baginya, pendidikan sejati adalah pendidikan yang membentuk manusia yang sadar, peduli, dan berprinsip.

BACA JUGA:  Lonjakan Penumpang Kereta Api Sumut Capai 220 Ribu, KAI Catat Rekor Baru di Mei 2025

“Melawan perang pemikiran bukan berarti anti kemajuan. Ini perjuangan menjaga kejernihan akal dan nyala hati nurani. Nilai-nilai seperti kebenaran, kesederhanaan, kejujuran, dan rasa hormat itu milik semua umat manusia,” tegasnya.

Ia percaya, masa depan tidak hanya dimiliki oleh mereka yang menguasai teknologi, tetapi oleh mereka yang tetap bisa berpikir jernih dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap keputusan. (Red)