SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
KRIMINAL

Pelajar 17 Tahun Meninggal di Flyover Pasupati, Atalia Praratya: Kesehatan Mental Jangan Dianggap Remeh

×

Pelajar 17 Tahun Meninggal di Flyover Pasupati, Atalia Praratya: Kesehatan Mental Jangan Dianggap Remeh

Sebarkan artikel ini
Foto: Petugas saat melakukan proses evakuasi terhadap pelajar berinisial MRJ (17) tahun yang meninggal dunia diduga akibat bunuh diri di flyover Pasupati, Kota Bandung, Jawa Barat pada Selasa (10/2/2026). (Foto: Instagram/@ataliapr).

BANDUNG (MAWARTA) – Seorang pelajar berusia 17 tahun berinisial MRJ meninggal dunia di kawasan Flyover Pasupati atau Jalan Layang Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (10/2/2026). Peristiwa tersebut diduga terkait dengan tindakan bunuh diri.

Atas kejadian tersebut, Anggota DPR RI Atalia Praratya menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga korban.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

“Innalilahi wa inna ilaihi rajiun. Luka mendalam kembali menyapa kita di Flyover Pasupati. Ananda MRJ (17) telah berpulang. Peluk doa paling dalam untuk keluarga yang ditinggalkan,” tulis Atalia melalui akun media sosialnya, dikutip Rabu (11/2/2026) malam.

Atalia yang juga mantan istri dari mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (Kang Emil) menegaskan bahwa peristiwa ini harus menjadi pengingat serius bagi semua pihak, khususnya terkait isu kesehatan mental anak dan remaja.

Ia mengungkapkan, berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sepanjang tahun 2025 tercatat 26 kasus kematian anak akibat bunuh diri di Indonesia.

BACA JUGA:  Kajati Sumut Terapkan Restorative Justice, Perkara Kecelakaan Lalu Lintas Dihentikan

“Kita tidak boleh lagi menutup mata. Data KPAI menunjukkan sepanjang 2025, 26 nyawa anak hilang dengan cara yang memilukan, dan di awal 2026 duka itu kembali terjadi,” ujarnya.

Atalia menambahkan, kelompok usia remaja hingga dewasa muda (15–24 tahun) saat ini justru menjadi kelompok paling rentan mengalami depresi.

Namun ironisnya, berdasarkan data UNICEF, hanya sekitar 10 persen dari mereka yang berani mengungkapkan kondisi mentalnya dan mencari bantuan.

“Kesehatan mental adalah hal yang sangat nyata dan tidak boleh lagi kita anggap remeh,” tegasnya.

Ia pun mengajak masyarakat untuk lebih peduli dan peka terhadap lingkungan sekitar, terutama terhadap anak-anak dan remaja.

“Mari kita saling jaga dan lebih peka terhadap sesama. Jangan biarkan ada lagi bunga yang gugur sebelum sempat mekar hanya karena merasa sendirian,” tuturnya.

Atalia menutup pernyataannya dengan menyampaikan empati mendalam sebagai anggota Komisi VIII DPR RI, yang bermitra dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA). (*)