SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
NUSANTARA

Mengenal Inovasi Dinas Pertanian “Tegulah Petani” Intensifikasi Penggunaan Lahan Melalui Penerapan Teknologi Fertigasi

×

Mengenal Inovasi Dinas Pertanian “Tegulah Petani” Intensifikasi Penggunaan Lahan Melalui Penerapan Teknologi Fertigasi

Sebarkan artikel ini

KARO – Kabupaten Karo sudah dikenal sebagai daerah penghasil berbagai komoditas pertanian, khususnya buah-buahan dan sayuran.

Hal ini didukung dengan faktor kesesuaian agroekologi seperti kesuburan tanah, kesesuaian iklim dan cuaca dan juga faktor sosial budaya masyarakat yang kental dengan budaya agraris.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Oleh sebab itu,sektor pertanian menjadi tulang punggung perekonomian Kabupaten Karo. Hal ini dapat dilihat dari sumbangsih sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada tahun 2024 sebesar 53,04% (BPS, 2025).

Dalam upaya meningkatkan produktivitas dan daya saing pertanian di Kabupaten Karo, terdapat berbagai tantangan yang dihadapi seperti dampak perubahan iklim, keterbatasan lahan, tingginya biaya tenaga kerja, dan penggunaan sarana produksi yang belum optimal.

Berbagai tantangan tersebut perlu ditangani melalui program-program yang inovatif baik melalui inovasi baru atau pembaharuan.

BACA JUGA:  Inovasi Kecamatan Barusjahe 2024 “NDIKAR”

Pemerintah Kabupaten Karo melalui Dinas Pertanian hadir mengangkat inovasi “Tegulah Petani”.

Tegulah Petani merupakan singkatan dari Intensifikasi Penggunaan Lahan Melalui Penerapan Teknologi Fertigasi.

Fertigasi adalah salah satu cara pemberian air irigasi bersamaan dengan pemupukan. Fertigasi bisa dilakukan bersamaan dengan irigasi tetes.

Irigasi tetes/ drip irrigation merupakan cara pemberian air pada tanaman secara langsung baik pada permukaan tanah maupun di bawah permukaan tanah melalui tetesan secara sinambung dan perlahan.

Dinas Pertanian pada tahun 2024 sudah menerapkan inovasi Tegulah Petani di dua lokasi yaitu di BPP Tiga Panah dan BPP Berastagi.

Dalam penerapannya dibuat dua perlakuan yaitu perlakuan fertigasi dengan penggunaan mulsa dan perlakuan kontrol.

Tanaman yang dikembangkan adalah sawi putih, kol bunga, dan cabai merah.

BACA JUGA:  Golkar Bangkit: El Barino Shah Calon Wakil Ketua DPRD Medan

Hasil yang diperoleh secara nyata menunjukkan perbedaan diantaranya (1) tanaman dengan fertigasi lebih tahan terhadap kemarau dibandingkan konvensional (2) pengurangan tenaga kerja untuk penyiraman dan pemupukan (3) penampakan visual untuk pertumbuhan tanaman pada fase vegetatif lebih bagus (4) Indeks Pertanaman (IP) lebih tinggi dibandingkan konvensional karena tidak tergantung oleh musim (5) berkurangnya serangan gulma pada tanaman perlakuan fertigasi dibanding dengan konvensional.

Melalui inovasi Tegulah Petani, diharapkan petani dapat menerapkan teknologi fertigasi ini sebagai solusi efektif dalam menghadapi tantangan pertanian saat ini, seperti perubahan iklim, keterbatasan sumber daya alam, dan peningkatan permintaan pangan.

Selain itu, pengembangan teknologi fertigasi secara berkelanjutan dan terintegrasi dengan sensor Internet of Things (IoT) menjadi jalan menuju smart farming dalam mewujudkan petani maju, mandiri dan modern.