MAWARTANEWS.com – Sebagai subjek utama dalam perjalanan pendidikan di Indonesia, peran pelajar tidak bisa diremehkan. Mereka bukan hanya penerima, tetapi juga pembentuk masa depan bangsa. Namun, dalam sorotan kritis, masa depan cerah yang diharapkan bagi generasi penerus seringkali terancam oleh realitas yang mengecewakan.
Sekarang, di tengah tuntutan untuk “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”, kontradiksi antara harapan dan realitas menjadi semakin jelas.
Ahmad Syahroni, S.Ag, seorang pendidik yang juga memiliki posisi penting dalam organisasi pelajar di Kabupaten Dairi, menyoroti perubahan dramatis dalam jati diri pelajar.
Dulu, rasa hormat terhadap guru dan nilai-nilai sopan santun menjadi pilar utama dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Namun, di era digital yang serba praktis, pelajar tampaknya semakin jauh dari nilai-nilai ini.
Pertanyaannya, kemana perginya rasa hormat dan etika yang dulu begitu kuat?
Harapan untuk menciptakan generasi yang cerdas dengan etika dan akhlak yang baik seringkali bertabrakan dengan realitas yang keras.
Peran guru, meskipun penting, tidak cukup untuk mengatasi tantangan ini. Lebih dari itu, tanggung jawab terbesar terletak pada orang tua. Ironisnya, seringkali orang tua sendiri menjadi bagian dari masalah dengan membiarkan anak-anak terjerumus dalam ketergantungan pada gadget dan teknologi modern yang belum diatur dengan bijak.
Pemikiran ini mengingatkan kita pada pentingnya rasa peduli sebagai solusi yang mungkin untuk mengembalikan jati diri pelajar.
Kepedulian bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga tanggung jawab bersama sebagai masyarakat yang peduli terhadap masa depan bangsa.
Mari bersama-sama menghadapi tantangan ini dan mengembalikan jati diri pendidikan kita. Mari tingkatkan kesadaran akan pentingnya nilai-nilai etika dan akhlak dalam membentuk generasi penerus yang cerdas dan berbudi luhur.













