SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
NUSANTARA

Marwah Wartawan, Pilar Etika di Tengah Derasnya Informasi Digital

×

Marwah Wartawan, Pilar Etika di Tengah Derasnya Informasi Digital

Sebarkan artikel ini

MEDAN – Wartawan bukan sekadar penyampai kabar. Di balik setiap baris berita yang tersaji, ada tanggung jawab besar untuk menjaga marwah kehormatan profesi yang kini kian diuji di tengah derasnya arus informasi digital.

Marwah seorang wartawan bukan hanya soal nama baik atau citra profesional. Lebih dari itu, ia adalah refleksi dari komitmen pada etika, integritas, dan prinsip jurnalistik yang tak bisa ditawar.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

“Wartawan yang bermarwah akan selalu mengutamakan akurasi, obyektivitas, dan independensi dalam setiap liputan,” ujar Berlin, seorang wartawan di Medan , Rabu (16/7/2025).

“Tanpa marwah, informasi yang disampaikan, betapapun akuratnya, akan kehilangan daya persuasi dan kepercayaan publik,” tegasnya.

BACA JUGA:  Terlibat Politik Praktis, Wartawan Diminta Nonaktif

Dalam praktiknya, marwah itu ditunjukkan melalui proses verifikasi fakta yang ketat, sikap menjauhi manipulasi informasi, serta keberanian untuk bertanggung jawab penuh atas setiap kata yang dipublikasikan. Kejujuran dan kehati-hatian bukan sekadar pilihan, tapi harga mati.

Namun, mempertahankan marwah di era digital bukan perkara mudah. Tekanan untuk menyajikan berita secepat mungkin, persaingan ketat antar media, serta derasnya gelombang disinformasi di media sosial sering kali membuat wartawan terjebak dalam dilema antara kecepatan dan kebenaran.

Tak hanya itu, serangan terhadap wartawan, baik secara fisik maupun digital melalui ujaran kebencian, juga menjadi ancaman nyata yang bisa menggoyahkan marwah profesi ini.

Dalam menghadapi tantangan itu, Berlin menekankan pentingnya peningkatan kapasitas wartawan, khususnya dalam hal etika profesi dan literasi digital.

BACA JUGA:  Literasi Digital, Pemko Medan Gandeng SMSI di Sekolah

Ia juga menyoroti perlunya regulasi yang benar-benar berpihak pada perlindungan wartawan di lapangan.

Namun, bukan hanya wartawan yang memikul beban menjaga marwah. Masyarakat pun punya peran krusial: mendukung jurnalisme yang bertanggung jawab, menuntut akuntabilitas media, dan membiasakan diri membedakan informasi kredibel dari hoaks.

Marwah wartawan adalah aset berharga bagi demokrasi. Ia adalah benteng terakhir agar kebebasan pers tidak menjadi kebebasan tanpa tanggung jawab. Dan menjaga marwah, pada akhirnya, adalah tanggung jawab kolektif antara wartawan, media, dan publik.