SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
NASIONALNUSANTARA

Kota Pahlawan, Bukan Kota Amarah

×

Kota Pahlawan, Bukan Kota Amarah

Sebarkan artikel ini
Ketum KJJT Ade S Maulana.

SURABAYA – Surabaya bukan sekadar titik di peta. Ia adalah nadi Jawa Timur, tempat sejarah bangsa ditulis dengan darah dan keberanian. Kota ini adalah saksi bisu perjuangan, di mana para pahlawan menolak tunduk pada penjajahan. Namun hari-hari terakhir, Surabaya kembali berguncang bukan oleh semangat juang, melainkan oleh amarah yang kehilangan arah.

Gedung Negara Grahadi dibakar. Kendaraan pegawai dan sejumlah pos polisi dibakar. Tempat ibadah yang seharusnya menjadi rumah damai justru dijadikan pelampiasan. Fasilitas umum yang dibangun dari keringat rakyat hancur sekejap mata. Di balik kobaran itu, ada anak-anak yang menangis ketakutan, ada orang tua yang gelisah menatap layar berita, ada keluarga yang menunggu di rumah dengan doa yang tak putus.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Kami menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat: mari kita jaga keluarga kita, mari kita lindungi mereka dari arus aksi yang telah kehilangan makna. Menyampaikan pendapat adalah hak konstitusional, tapi membakar bangunan sejarah, menjarah milik publik, dan menebar rasa takut bukanlah keberanian. Itu justru pengkhianatan terhadap nilai-nilai bangsa.

BACA JUGA:  Ketum AMI ; Imbauan Jam Operasional Warung Madura, Sangat Tidak Adil

Sebagai jurnalis, kami tak hanya mencatat peristiwa. Kami percaya kata-kata bisa menjadi jembatan, bukan bara. Suara rakyat bisa mengguncang parlemen tanpa harus meruntuhkan warisan leluhur. Kami berdiri bukan untuk membela kekuasaan, melainkan membela akal sehat, martabat, dan masa depan anak negeri.

Kami percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, bahwa setiap kejadian seberat apa pun adalah ujian yang menguatkan. Dalam luka, kita belajar rendah hati. Dalam kekacauan, kita diuji untuk tetap waras dan bijak. Dan dalam kehancuran, kita diberi kesempatan untuk membangun kembali dengan hati yang lebih bersih, niat yang lebih tulus.

Kepada para wakil rakyat yang dahulu mengetuk pintu kami dengan janji-janji: jangan lupa siapa yang mengangkat kalian. Jangan pernah meremehkan suara rakyat dengan kata-kata yang melukai. Kami adalah pemilik suara, pemilik harapan, pemilik negeri ini. Jangan biarkan luka Surabaya menjadi warisan yang paling diingat dari masa jabatan kalian.

BACA JUGA:  Polres Dairi Tangkap Pengedar Sabu di Desa Harapan

Dan kepada semua yang masih ingin turun ke jalan: renungkanlah sejenak. Keluarga menunggu di rumah, bukan dengan cemas, melainkan dengan harapan. Mereka tak ingin menyambut kita dengan luka atau kabar buruk. Mereka menunggu kita pulang dengan akal sehat, dengan semangat membangun, bukan menghancurkan.

Setiap kerusakan yang terjadi hari ini akan dibayar dengan uang rakyat esok hari. Dana pendidikan, kesehatan, dan pembangunan akan tersedot untuk memperbaiki apa yang kita rusak sendiri. Apakah itu warisan yang ingin kita tinggalkan?

Mari kita jaga Surabaya. Mari kita jaga keluarga. Mari kita jaga martabat bangsa. Karena menjaga bukan berarti diam ia adalah keberanian yang paling bijak.

Surabaya adalah Kota Pahlawan. Dan kita wajib menjaganya tetap demikian.

Karya tulis: Ade S. Maulana
Ketua Umum Komunitas Jurnalis Jawa. Senin (01 September 2025)