SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
NUSANTARA

Ketika Isi Perut Terancam, Independensi Profesi Pun Tergadaikan

×

Ketika Isi Perut Terancam, Independensi Profesi Pun Tergadaikan

Sebarkan artikel ini
Foto: Ade S Maulana Ketum KJJT.

PAMEKASAN – Dunia pers di Kabupaten Pamekasan kembali diguncang dinamika internal yang memantik pertanyaan serius tentang integritas dan independensi profesi jurnalis.

Sorotan tertuju pada seorang ketua organisasi pers di Pamekasan, Madura, yang secara terbuka mengkritik karya tulis rekan seprofesinya berjudul “Di Balik Kemeriahan Acara Sultan Madura, Ada Jeritan Pedagang.”

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Tulisan tersebut, karya Halik jurnalis media daring lokal mengangkat suara pedagang kecil yang merasa terpinggirkan di tengah hiruk-pikuk acara Sultan Madura. Saat pesta rakyat dipenuhi gegap gempita, Halik justru memilih berdiri di sisi sunyi, menyuarakan jeritan mereka yang tak terdengar.

Namun, alih-alih mendapat dukungan, Halik malah menghadapi serangan balik dari ketua organisasi pers yang seharusnya menjaga marwah profesi. Ironisnya, sosok yang digambarkan layaknya “Sengkuni” itu justru terlihat menggadaikan independensinya demi kenyamanan relasi dan kepentingan tertentu.

BACA JUGA:  Lurah Tanah Enam Ratus Kunjungi Warga Penderita Stunting

Perbedaan sudut pandang ini berujung pada sindir-menyindir lewat rilis resmi organisasi, memperlihatkan rapuhnya solidaritas profesi saat idealisme dikompromikan.

Halik dan rekan-rekannya tetap teguh. Tulisannya menjadi perlawanan sunyi namun bermartabat sikap yang kian langka di tengah derasnya arus pragmatisme.

“Sebagai pilar keempat demokrasi, jurnalis seharusnya menjadi penjaga nurani publik, bukan sekadar pengikut arus kekuasaan atau penjaga isi perut pribadi,” tegas Ade, Ketua Umum Komunitas Jurnalis Jawa Timur, Minggu (24/8/2025).

Ade menilai, kebebasan pers di Pamekasan mulai terbelenggu oleh kepentingan tak kasat mata yang bersembunyi di balik simbol dan seremoni. “Siapa yang paling dirugikan? Pastinya masyarakat. Bahkan Sultan pun ikut merugi, karena oknum di sekelilingnya gagal menjaga suasana kondusif, malah menambah gaduh,” cetusnya.

BACA JUGA:  Seorang Wartawan di Surabaya di Todong Senjata Saat Liputan Gudang BBM

Di era digital, satu tulisan bisa menjadi bara yang menyulut kesadaran publik. Meski Halik dan kawan-kawan mendapat tekanan serta perundungan dari pihak yang berlindung di balik ‘ketiak Sultan’, mereka tetap berdiri tegak, menjaga akurasi dan keberimbangan informasi.

Menulis bukan hanya menyusun kata, tapi juga mengukur keberanian dan integritas. Menurut Ade, menjaga independensi bukanlah pilihan, melainkan kewajiban moral. Sebab ketika isi perut dijadikan alasan membungkam nurani, profesi jurnalis berhenti menjadi penjaga kebenaran dan berubah menjadi pelayan kepentingan.

“Di balik profesi kami, masih ada jurnalis yang punya hati nurani untuk menyuarakan kebenaran,” tutup Ade.(***)

Sumber resmi: Divisi Humas KJJT.