SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
NUSANTARA

Kecelakaan Kerja, Guru di Medan Tewas Saat Memotong Pohon Kapok

×

Kecelakaan Kerja, Guru di Medan Tewas Saat Memotong Pohon Kapok

Sebarkan artikel ini
Netty Dameria Nadapdap, menandatangani surat tidak dilakukan otopsi di rumah sakit Bhayangkara. (Foto: Adi/Mawartanews)

MEDAN – Seorang pria tewas tergantung di pohon kapok di Jalan Jermal 1, Medan Denai, setelah terkena mesin sinso (gergaji mesin) miliknya.

Korban, Budianto Simarmata (51), adalah seorang guru di sekolah swasta di kawasan Helvetia dan warga Jalan Teratai III, Perumnas Helvetia.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Kejadian tragis ini terjadi saat Budianto hendak memotong pohon kapok di tanah milik orang tuanya. Pohon tersebut dinilai telah mengganggu rumah warga di sekitarnya.

“Warga sebelah bilang, pohon itu harus ditebang. Kalau sampai merusak tembok mereka, kami harus menggantinya,” ujar Netty Dameria Nadapdap, istri Budianto, di depan kamar jenazah Rumah Sakit Bhayangkara, Minggu (16/2/25).

BACA JUGA:  Satpol PP Deliserdang Datang Mengancam Warga

Netty menceritakan bahwa ia menunggu suaminya di bawah pohon saat Budianto memanjat untuk memotong pohon kapok. Tiba-tiba, mesin sinso yang digunakan Budianto terjatuh dan mengenai kakinya.

“Sempat dia bilang, ‘Mak, kakiku kena sinso,’” kata Netty menirukan ucapan suaminya.

Melihat suaminya terluka dan tergantung di pohon, Netty pun histeris meminta bantuan warga sekitar.

Warga dan petugas kemudian berusaha mengevakuasi Budianto, tetapi nyawanya tidak tertolong. Diduga, Budianto kehilangan banyak darah akibat luka yang disebabkan oleh mesin sinso.

Jenazah Budianto saat ini masih disemayamkan di kamar jenazah Rumah Sakit Bhayangkara. Keluarga memutuskan untuk tidak melakukan otopsi dan akan langsung membawa jenazah ke rumah.

BACA JUGA:  Miris!!! Anak Didik Sekolah Terkatung-Katung, Kepsek Berhentikan 6 Guru Guru GTT Honorer di SD Negeri 078497 di Desa Hilinifaoso Nisel

“Ini kecelakaan kerja, jadi kami tidak perlu otopsi. Kami akan langsung bawa pulang,” ujar Netty.

Budianto meninggalkan tiga orang anak dan istri yang berduka. Kepergiannya menjadi pukulan berat bagi keluarga, terutama karena ia adalah tulang punggung keluarga.

“Dia guru yang baik dan ayah yang bertanggung jawab. Kami semua masih tidak percaya ini terjadi,” tambah Netty.

Kejadian ini menjadi peringatan tentang pentingnya keselamatan kerja, terutama saat menggunakan alat-alat berat seperti mesin sinso.

Masyarakat diimbau untuk selalu berhati-hati dan memastikan prosedur keselamatan dipatuhi saat melakukan pekerjaan berisiko tinggi. (Adi)