Jakarta (MAWARTA) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tiba-tiba anjlok tajam lebih dari 2 persen pada perdagangan Selasa siang. Hingga pukul 14.33 WIB, IHSG ambles 194,24 poin atau 2,17% ke level 8.742,51, setelah sebelumnya sempat menguat di sesi awal.
Tekanan jual mendominasi pasar. Tercatat 535 saham melemah, hanya 220 saham menguat, sementara 203 saham stagnan.
Aktivitas perdagangan terpantau ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp27,71 triliun, melibatkan 49,98 miliar saham dalam 3,7 juta kali transaksi.
Berbalik Arah dari Sesi Pagi
Padahal, pada sesi I, IHSG masih ditutup menguat 0,13% atau naik 11,21 poin ke level 8.947,96. Saat itu, 359 saham naik, 311 turun, dan 141 saham belum bergerak.
Namun memasuki sesi II, tekanan jual meningkat signifikan hingga menyeret indeks ke zona merah dalam waktu singkat.
Pekan Pendek, Sentimen Jadi Penentu
Sebagai informasi, pasar keuangan Indonesia hanya dibuka empat hari pada pekan ini. Bursa akan libur pada Jumat seiring peringatan Isra Mi’raj, sehingga waktu perdagangan menjadi lebih singkat.
Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung lebih sensitif terhadap sentimen, baik dari dalam negeri maupun global.
Fokus ke Inflasi AS dan Harga Komoditas
Saat ini, perhatian investor beralih ke data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis pekan depan, sekaligus mencermati pergerakan harga komoditas global yang masih menunjukkan tren kenaikan.
Pasar sementara memperkirakan inflasi AS berada di kisaran 2,7% secara tahunan di penghujung 2025, lebih rendah dibandingkan ekspektasi sebelumnya yang berada di atas 3%.
Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung lebih sensitif terhadap sentimen, baik dari dalam negeri maupun global.
Fokus ke Inflasi AS dan Harga Komoditas
Saat ini, perhatian investor beralih ke data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis pekan depan, sekaligus mencermati pergerakan harga komoditas global yang masih menunjukkan tren kenaikan.
Pasar sementara memperkirakan inflasi AS berada di kisaran 2,7% secara tahunan di penghujung 2025, lebih rendah dibandingkan ekspektasi sebelumnya yang berada di atas 3%. (Jones)













