Jakarta (MAWARTA) – HSBC Global Investment Research memproyeksikan nilai tukar rupiah berpotensi menyentuh level Rp17.000 per dolar AS pada akhir 2026.
Tekanan terhadap rupiah diperkirakan berasal dari pergerakan arus modal asing yang cenderung melambat, bukan dari sektor perdagangan.
Chief India Economist and ASEAN Economist HSBC, Pranjul Bhandari, mengatakan rupiah masih menghadapi tekanan depresiasi moderat di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian.
“Kami membayangkan rupiah masih menghadapi tekanan depresiasi moderat seiring dinamika neraca pembayaran. Pada akhir tahun 2026, nilai tukar rupiah berpotensi berada di kisaran Rp17.000 per dolar AS,” ujar Pranjul dalam konferensi pers HSBC Outlook 2026, Senin (12/1/2026).
Menurut Pranjul, terdapat dua faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah di tengah volatilitas geopolitik global, yakni arus modal dan neraca perdagangan.
Dari sisi perdagangan, kinerja Indonesia dinilai masih relatif kuat. Data terbaru menunjukkan neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus sekitar US$2,6 miliar pada November 2025, sekaligus memperpanjang rekor surplus selama 67 bulan berturut-turut.
Bahkan, sepanjang Januari–November 2025, surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai US$38,54 miliar, berdasarkan data Badan Pusat Statistik.
Namun, tekanan terhadap rupiah justru datang dari sisi arus modal.
“Arus portofolio ke pasar saham dan obligasi, serta investasi langsung asing (FDI) jangka panjang diperkirakan cenderung lemah dan lamban. Tekanan pada arus modal inilah yang menjadi sumber utama tekanan terhadap rupiah, bukan sektor perdagangan,” jelas Pranjul.
Rupiah Masih Melemah di Pasar Spot
Sejalan dengan proyeksi tersebut, rupiah pada perdagangan Senin (12/1/2026) kembali melanjutkan tren pelemahan. Pada pembukaan pasar spot pagi, rupiah tergerus 0,18% ke level Rp16.835 per dolar AS.
Tak berselang lama, pelemahan berlanjut hingga 0,21% ke posisi Rp16.841 per dolar AS, sekaligus memperpanjang tren pelemahan harian sejak awal Januari 2026.
Kondisi ini mencerminkan sikap wait and see investor global, khususnya menjelang rilis data ekonomi utama Amerika Serikat dan dinamika kebijakan moneter global. (Jones)













