Deliserdang (MAWARTA) – Kepergian seorang guru pensiunan di Kabupaten Deli Serdang menyisakan duka sekaligus sorotan tajam dari masyarakat. Almarhumah Juliana Br. Limbong, pendidik yang telah mengabdikan puluhan tahun hidupnya, dimakamkan tanpa kehadiran perwakilan resmi pemerintah setempat, Rabu (29/4/2026).
Prosesi penghantaran jenazah di Desa Bulu Cina, Kecamatan Hamparan Perak, berlangsung sederhana. Tidak tampak kehadiran pejabat kecamatan, dinas pendidikan, maupun pemerintah desa. Bahkan, jenazah almarhumah diantar menggunakan mobil pick up hasil swadaya warga.
Situasi tersebut memicu kekecewaan mendalam dari keluarga dan masyarakat yang hadir. Di tengah suasana duka, muncul kritik terhadap minimnya empati dari pihak yang dinilai seharusnya hadir memberikan penghormatan terakhir kepada sosok pendidik.
Almarhumah dikenal sebagai guru yang mendedikasikan hidupnya untuk mencerdaskan generasi muda di wilayah tersebut. Selama puluhan tahun, ia mengajar dan membimbing siswa tanpa pamrih, menjadikannya sosok yang dihormati di lingkungan masyarakat.
Namun, saat kepergiannya, penghormatan yang diharapkan tidak terlihat. Warga menilai absennya unsur pemerintah sebagai bentuk kurangnya kepedulian terhadap jasa seorang guru.
Sorotan juga diarahkan kepada Camat Hamparan Perak, M. Faisal Nasution, yang disebut tidak menghadiri maupun mengirimkan perwakilan, meski kabar duka telah disampaikan sebelumnya.
Seorang pelayat, Abdul Hadi, menyampaikan kritik keras atas kejadian tersebut. Ia menilai peristiwa ini bukan sekadar kelalaian, melainkan mencerminkan rendahnya kepedulian terhadap masyarakat.
“Seorang guru yang telah mengabdi puluhan tahun diperlakukan seolah tidak pernah ada. Ini bukan hanya soal jabatan, tetapi soal kemanusiaan,” ujarnya.
Peristiwa ini dinilai berpotensi mencoreng citra Pemerintah Kabupaten Deli Serdang, terutama di tengah upaya membangun kepercayaan publik. Minimnya kehadiran pemerintah dalam momen duka dianggap sebagai indikator lemahnya empati dalam pelayanan publik.
Di balik berbagai program pembangunan, kejadian ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan tidak hanya diukur dari kebijakan, tetapi juga dari kepekaan sosial terhadap masyarakat.
Kepergian Juliana Br. Limbong kini meninggalkan cerita pilu yang akan terus diingat warga—tentang seorang guru yang mengabdi seumur hidup, namun dilepas dengan penghormatan sederhana dari masyarakat, bukan dari mereka yang mewakili negara. (Hoko)















