Medan (MAWARTA) — Suasana sore di sebuah warung kopi sederhana di Jalan Bunga Ncole Raya No.23, Kelurahan Kemenangan Tani, Kecamatan Medan Tuntungan, Jumat (24/10/2025), terasa hangat dan penuh keakraban.
Di antara aroma kopi yang mengepul dan tawa ringan yang berbaur di udara, para jurnalis yang tergabung dalam Forum Wartawan Tuntungan (Forwatun) berkumpul dalam agenda rapat bulanan yang sarat makna.
Di bawah kepemimpinan Tison Sembiring selaku Ketua dan Harry Bagaskara sebagai Sekretaris Jenderal, pertemuan yang semula hanya direncanakan sebagai ajang silaturahmi, berkembang menjadi ruang inspiratif untuk berbagi ide, gagasan, dan kepedulian sosial.
Salah satu topik yang mencuri perhatian dalam diskusi itu adalah rencana program edukasi bagi siswa-siswi sekolah tentang penggunaan gadget secara bijak dan sehat.
Para jurnalis menyadari bahwa teknologi kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak, namun tanpa pemahaman yang benar, gadget justru bisa menjadi ancaman bagi perkembangan karakter dan konsentrasi belajar.
“Anak-anak sekarang memang sangat akrab dengan gadget, tapi belum tentu paham risikonya. Sebagai jurnalis, kita merasa terpanggil untuk berbagi pengetahuan. Kita ingin hadir bukan hanya lewat berita, tapi juga lewat tindakan nyata,” ujar Tison Sembiring dengan nada tenang namun penuh keyakinan.
Diskusi berjalan hangat, diselingi canda dan tawa di antara secangkir kopi. Meski tanpa fasilitas mewah, semangat dan kekompakan terasa begitu nyata di ruang sederhana itu.
“Kita ingin Forwatun tidak hanya menjadi wadah profesi, tapi juga komunitas yang membawa manfaat bagi masyarakat. Setiap kali ngopi bareng seperti ini, selalu ada ide baru yang lahir,” tambah Harry Bagaskara sambil tersenyum.
Selain membahas program edukasi, rapat tersebut juga menyepakati sejumlah agenda penting lainnya, di antaranya memperkuat kolaborasi dengan instansi pemerintah dan stakeholder untuk mendukung kegiatan sosial Forwatun secara berkelanjutan.
Para anggota juga berinisiatif merancang seragam resmi Forwatun sebagai simbol identitas dan semangat kebersamaan dalam menjalankan misi jurnalistik dan sosial.
Menjelang senja, pertemuan ditutup dengan foto bersama. Beberapa anggota masih tampak enggan beranjak, menikmati sisa kopi dan obrolan ringan.
Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya pertemuan sederhana di warung kopi pinggir jalan.
Namun bagi Forwatun, dari sanalah semangat besar tumbuh — dari obrolan hangat, secangkir kopi, dan niat tulus untuk terus memberi makna bagi sesama. (Red)













