Medan (MAWARTA) – Dalam ibadah minggu ini, Ketua Gembala jemaat Gereja Wesleyan Indonesia Namobintang Medan dr. Supredo Sembiring Kembaren menyampaikan firman Tuhan yang berpusat pada kasih karunia Allah sebagai jalan keselamatan, serta peringatan tentang kehidupan setelah kematian.
Mengutip 1 Korintus 13:6, beliau menegaskan bahwa kasih sejati “tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran ia bersukacita.” Kasih sejati bukan sekadar kata-kata, tetapi hidup yang berpihak pada kebenaran dan menolak kejahatan.
Firman kemudian dilanjutkan dari Efesus 2:8–9, yang mengingatkan bahwa keselamatan adalah anugerah Allah:
“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah. Itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”
Dengan demikian, tidak ada seorang pun dapat bermegah karena perbuatannya. Segala kharisma dan energi hidup datang dari Allah semata.
Gembala jemaat juga mengingatkan jemaat tentang akar kematian. Menurut Roma 6:23, kematian bukanlah karena malaikat pencabut nyawa, melainkan akibat dosa. Namun, bagi orang percaya, kematian hanyalah pintu menuju kekekalan.
Hal ini dipertegas melalui kisah Lazarus dan orang kaya dalam Lukas 16:19–31. Lazarus, yang miskin di bumi namun setia kepada Tuhan, diterima di pangkuan Abraham karena namanya tertulis dalam Kitab Kehidupan.
Sebaliknya, orang kaya yang menolak Allah berakhir dalam penderitaan, sebab namanya tidak tercatat dalam kitab tersebut.
Gambaran ini sejalan dengan peringatan Wahyu 20:15, bahwa siapa yang tidak tercatat dalam Kitab Kehidupan akan dilemparkan ke lautan api.
Firman berikutnya mengarahkan jemaat untuk menaruh mata hanya kepada Kristus. Ibrani 12:2 berkata: “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan.”
Kristus yang rela menderita demi sukacita kekal kini duduk di sebelah kanan Allah, menjadi teladan iman bagi kita. Bahkan, Ibrani 12:23 menegaskan bahwa nama orang percaya sudah terdaftar di sorga bersama “roh orang benar yang telah menjadi sempurna.”
Sebagai penutup, Gembala membawakan perikop Lukas 12:13–20 tentang orang kaya yang bodoh. Orang kaya itu menimbun harta dan berkata pada dirinya:
“Beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah.” Namun Allah berfirman: “Hai orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil darimu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?” Pesan ini menegaskan bahwa hidup bukanlah soal menimbun kekayaan, melainkan menyiapkan jiwa untuk kekekalan.
“Semua yang kita miliki hanyalah titipan. Harta tidak bisa dibawa mati, tetapi iman kepada Kristus menjamin nama kita tertulis dalam Kitab Kehidupan,” tegas Gembala jemaat. (Tison)














