JAKARTA (MAWARTA) – Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah rangkaian erupsi yang sebelumnya berlangsung sekitar 25 jam. Meski aktivitasnya dinilai masih relatif ringan, masyarakat diminta tidak menganggap kondisi tersebut tanpa risiko.
Dosen Teknik Geofisika sekaligus Pakar Kebumian Universitas Pertamina (UPER), Iktri Madrinovella, M.Si., mengatakan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang saat ini berstatus Level III atau Siaga masih perlu dipantau secara ketat.
Menurut Iktri, pemantauan PVMBG melalui pengamatan visual, data kegempaan dan amplitudo RSAM menunjukkan aktivitas erupsi masih berada pada tingkat relatif ringan. Namun, kondisi tersebut tidak berarti potensi bahaya telah hilang.
“Meski letusan kecil cenderung berdampak lebih terlokalisasi, kondisi tersebut bukan berarti bebas dari risiko. Masih terdapat potensi letusan susulan, hujan abu vulkanik, aliran lava, dan bahaya lainnya yang dampaknya dapat menjangkau wilayah lebih luas,” ujar Iktri dalam keterangan yang diterima mawarta, Rabu (9/9).
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sebelumnya mencatat episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau berlangsung sekitar 25 jam, sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB hingga Minggu (6/9/2026) pukul 00.04 WIB.
Setelah episode tersebut berakhir, aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan karakteristik letusan Strombolian. Badan Geologi memastikan status aktivitas gunung api tetap berada pada Level III atau Siaga.
Iktri menjelaskan, erupsi Strombolian merupakan tipe erupsi dengan ledakan relatif ringan yang umumnya ditandai letusan-letusan kecil, magma yang relatif encer serta pelepasan gas secara berkala.
Meski demikian, material hasil erupsi tetap dapat menyebar jauh dari pusat aktivitas. Salah satunya karena partikel abu vulkanik berukuran sangat halus dapat terbawa angin.
“Abu yang bergerak dengan kecepatan 10–20 knot atau sekitar 18–37 kilometer per jam tersebut menyebar ke arah timur laut hingga selatan dan menjangkau wilayah Jabodetabek serta Jawa Barat,” jelasnya.
Menurut Iktri, kondisi musim kemarau turut memengaruhi penyebaran material vulkanik. Cuaca yang relatif kering membuat abu dapat bertahan lebih lama di atmosfer dan terbawa angin ke wilayah yang lebih jauh.
Sebaran abu vulkanik tersebut bukan hanya berdampak terhadap kualitas udara, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas masyarakat serta transportasi apabila konsentrasinya cukup tinggi.
Badan Geologi pada 7 September juga masih merekomendasikan masyarakat terdampak abu vulkanik mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker saat beraktivitas di luar untuk menghindari gangguan pernapasan.
Selain abu vulkanik, Iktri mengingatkan adanya potensi bahaya lain yang perlu diperhatikan karena Gunung Anak Krakatau berada di tengah perairan Selat Sunda.
Salah satu perhatian utama adalah potensi tsunami akibat perubahan atau runtuhan tubuh gunung ke laut.
Peristiwa 22 Desember 2018 menjadi salah satu catatan penting. Saat itu, longsoran sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau ke laut memicu tsunami di kawasan Selat Sunda.
Iktri menjelaskan sejumlah parameter dapat digunakan untuk memantau perubahan kondisi gunung yang berpotensi memicu ketidakstabilan. Di antaranya peningkatan aktivitas kegempaan, perubahan bentuk tubuh gunung yang dipantau menggunakan tiltmeter dan GPS, kondisi lereng serta perubahan pola erupsi.
Untuk mendeteksi kemungkinan perubahan muka air laut, pemantauan juga dapat dilakukan menggunakan tide gauge dan sensor tsunami.
Namun, kondisi Anak Krakatau saat ini perlu dibaca berdasarkan data terbaru. Badan Geologi menyatakan pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah erupsi 2018 masih relatif kecil dan pada evaluasi sebelumnya belum dinilai berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Meski begitu, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologinya tetap dipantau secara intensif.
Karena itu, Iktri meminta masyarakat tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kesiapsiagaan dan mengandalkan informasi dari sumber resmi.
“Mengingat Gunung Anak Krakatau memiliki riwayat bencana penyerta, masyarakat perlu mencermati perkembangan aktivitasnya tanpa mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi,” katanya.
Ia mengimbau masyarakat mengikuti informasi resmi yang dikeluarkan PVMBG, BMKG, BNPB dan BPBD serta media yang kredibel.
Sementara itu, Universitas Pertamina menilai pemahaman mengenai dinamika kebumian perlu terus diperkuat, termasuk melalui pendidikan dan komunikasi sains kepada masyarakat.
Rektor Universitas Pertamina Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra mengatakan mahasiswa dibekali pengetahuan mengenai proses kebumian dan pengolahan data melalui sejumlah mata kuliah yang berkaitan dengan geofisika.
“Melalui mata kuliah seperti Seismologi, Geodinamika, serta Pengolahan dan Analisis Sinyal Geofisika, mahasiswa mempelajari proses kebumian dan mengolah data untuk memahami berbagai gejala alam,” ujar Ichsan.
Menurutnya, pembelajaran tersebut juga dilengkapi dengan mata kuliah Penglibatan Publik untuk Proyek Sains dan Teknologi agar mahasiswa mampu menyampaikan hasil kajian ilmiah dengan cara yang tepat dan mudah dipahami masyarakat.
Kompetensi tersebut dinilai penting untuk memperkuat literasi kebencanaan sekaligus membantu masyarakat memahami risiko bencana berdasarkan informasi ilmiah.
Hingga evaluasi Badan Geologi 7 September 2026, status Gunung Anak Krakatau masih Level III (Siaga). Masyarakat dan wisatawan dilarang melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung serta diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman lava, lontaran batu pijar, awan panas dan hujan abu lebat. (*)















