JAKARTA (MAWARTA) – Transisi menuju industri otomotif yang lebih ramah lingkungan dinilai tidak bisa hanya mengandalkan kendaraan listrik. Indonesia perlu mengembangkan beragam teknologi, mulai dari kendaraan listrik hingga bahan bakar nabati, dengan mempertimbangkan kebutuhan tiap sektor transportasi dan dampaknya terhadap lingkungan.
Pandangan tersebut disampaikan Guru Besar Teknik Mesin Universitas Pertamina (UPER), Prof. Dr. Eng. Ir. Iman Kartolaksono Reksowardojo, M.Eng. Ia menilai pendekatan multi-pathway atau beragam jalur teknologi menjadi pilihan yang relevan bagi Indonesia dalam membangun sistem transportasi yang lebih berkelanjutan.
Menurut Prof. Iman, pengembangan kendaraan listrik perlu diikuti upaya memperkuat pengolahan bahan baku dan penguasaan teknologi di dalam negeri. Dengan demikian, potensi sumber daya mineral, termasuk nikel, tidak hanya dimanfaatkan untuk memasok kebutuhan bahan mentah, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah bagi industri nasional.
Ia menjelaskan, pilihan teknologi kendaraan perlu disesuaikan dengan karakteristik penggunaannya. Kendaraan penumpang dan sepeda motor di kawasan perkotaan, misalnya, dinilai cocok menggunakan tenaga listrik karena perjalanan relatif pendek dan akses pengisian daya lebih memungkinkan.
Sebaliknya, truk, bus, dan alat berat yang menempuh perjalanan jauh atau beroperasi di wilayah dengan fasilitas pengisian daya terbatas dapat memanfaatkan biodiesel. Pilihan tersebut didukung oleh keberadaan mesin diesel dan jaringan distribusi bahan bakar yang telah tersedia.
Di sisi lain, Indonesia juga memiliki peluang mengembangkan bahan bakar nabati dari sumber selain kelapa sawit, seperti jarak pagar, nyamplung, dan kemiri sunan. Pengembangan berbagai sumber energi itu perlu disertai kajian menyeluruh agar manfaatnya tidak hanya dilihat dari ketersediaan bahan baku.
Prof. Iman menekankan pentingnya pendekatan Life Cycle Assessment (LCA) untuk menilai dampak lingkungan dari setiap pilihan teknologi. Kajian tersebut mencakup keseluruhan tahapan, mulai dari penyediaan bahan baku, proses produksi, hingga penggunaan energi.
“Setiap pilihan teknologi dan sumber energi harus mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan, bukan hanya ketersediaan bahan baku atau infrastrukturnya,” jelas Prof. Iman saat ditemui di Universitas Pertamina pada 15 Oktober 2026.
Perkembangan pasar kendaraan listrik menunjukkan peluang yang terus tumbuh. Data yang dikutip dari Goodstats (2026) menyebutkan penjualan kendaraan listrik meningkat dari 99.111 unit pada 2024 menjadi 150.452 unit pada 2025.
Meski demikian, kendaraan listrik bukan satu-satunya jalur yang tengah dikembangkan. Indonesia juga mengarah pada pemanfaatan biodiesel B50, yakni bahan bakar dengan komposisi 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan 50 persen solar.
Sebagai salah satu produsen minyak sawit terbesar dunia, Indonesia memiliki potensi bahan baku untuk mendukung pengembangan biodiesel. Namun, penerapan B50 tetap membutuhkan kesiapan teknologi kendaraan, termasuk pengujian dan penyesuaian mesin agar sesuai dengan karakteristik bahan bakar tersebut.
“Penerapan B50 memerlukan kerja sama antara produsen kendaraan, produsen bahan bakar, masyarakat, dan pemerintah,” ujar Prof. Iman.
Selain kesiapan teknis, pengembangan energi alternatif juga perlu memperhatikan standar mutu bahan bakar dan kesesuaiannya dengan kebutuhan mesin. Langkah tersebut penting agar kebijakan diversifikasi energi dapat berjalan seiring dengan keandalan kendaraan dan target pengurangan dampak lingkungan.
Sementara itu, Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, menilai pengembangan energi berkelanjutan tidak cukup hanya bertumpu pada ketersediaan sumber daya. Indonesia juga membutuhkan talenta yang mampu mengembangkan teknologi, meningkatkan nilai tambah sumber daya, dan memperkuat industri energi nasional.
Menurut Ichsan, penguatan peminatan Renewable Energy pada Program Studi Teknik Mesin UPER diharapkan dapat meningkatkan kapasitas mahasiswa dalam memahami serta mengembangkan teknologi energi terbarukan sesuai kebutuhan Indonesia.
Pendekatan multi-pathway pada akhirnya menempatkan kendaraan listrik dan bahan bakar nabati sebagai pilihan yang dapat saling melengkapi. Tantangannya adalah memastikan setiap teknologi dikembangkan berdasarkan kebutuhan penggunaan, kesiapan industri, serta perhitungan dampak lingkungan secara menyeluruh. (Red)















