MEDAN (MAWARTA) – Chandra Kumala School menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan pendidikan yang ramah, adil, dan berkualitas dengan menggelar Seminar Sekolah Inklusi bertajuk Mendidik dengan Hati dan Menginspirasi, Jumat, 10 Juni 2026.
Kegiatan yang diikuti seluruh guru ini menghadirkan Kepala SLB E Negeri Pembina Provinsi Sumatera Utara, Mardi Panjaitan, S.Pd., M.Si., sebagai narasumber utama.
Seminar tersebut menjadi wadah bagi para tenaga pendidik untuk memperdalam pemahaman mengenai pentingnya pendidikan inklusif sekaligus memperkuat budaya sekolah yang menghargai keberagaman peserta didik.
Dalam pemaparannya, Mardi Panjaitan yang dikenal sebagai Guru di Atas Garis menegaskan bahwa pendidikan inklusif bukan hanya tentang menerima anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler.
Menurutnya, pendidikan inklusif merupakan perubahan paradigma yang memastikan setiap anak memperoleh hak yang sama untuk belajar, berkembang, dan mendapatkan layanan pendidikan sesuai kebutuhannya.
“Sekolah yang hebat bukan sekolah yang hanya menerima anak-anak yang mudah diajar, tetapi sekolah yang mampu menghadirkan ruang belajar bagi setiap anak tanpa diskriminasi,” ujar Mardi Panjaitan di hadapan para peserta seminar.
Materi yang disampaikan mencakup konsep dasar pendidikan inklusif, filosofi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, karakteristik anak berkebutuhan khusus, tantangan implementasi sekolah inklusi di Indonesia, hingga strategi membangun lingkungan belajar yang ramah bagi seluruh siswa.
Selain menyampaikan teori dan regulasi, Mardi juga berbagi pengalaman selama memimpin SLB E Negeri Pembina Provinsi Sumatera Utara.
Berbagai praktik baik dalam memberikan layanan pendidikan yang humanis kepada anak berkebutuhan khusus menjadi inspirasi bagi para guru yang mengikuti seminar.
Suasana seminar berlangsung interaktif. Para peserta aktif berdiskusi mengenai berbagai tantangan yang dihadapi di kelas, mulai dari identifikasi kebutuhan belajar peserta didik hingga penerapan strategi diferensiasi pembelajaran agar seluruh siswa dapat berkembang sesuai potensi masing-masing.
Melalui kegiatan ini, Chandra Kumala School berharap seluruh tenaga pendidik semakin siap membangun budaya sekolah yang inklusif, memperkuat kolaborasi dengan orang tua dan masyarakat, serta menghadirkan pembelajaran yang adaptif dan berpihak kepada setiap anak.
Seminar tersebut juga menjadi bagian dari komitmen Chandra Kumala School dalam membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menumbuhkan karakter, empati, serta penghormatan terhadap keberagaman.
Menutup kegiatan, Mardi Panjaitan mengajak seluruh guru untuk terus mengajar dengan hati dan menjadikan sekolah sebagai tempat yang aman, nyaman, serta memberikan kesempatan bagi setiap anak untuk tumbuh dan meraih cita-citanya.
“Kita harus percaya bahwa setiap anak istimewa. Ketika guru mengajar dengan hati, sekolah akan menjadi tempat terbaik bagi setiap anak untuk tumbuh dan bermimpi,” tutupnya. (*)















