Medan (MAWARTA) – Kontribusi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terhadap perekonomian Sumatera Utara kian menguat. Sepanjang 2025, UMKM tercatat menyumbang 46,51 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumut, menegaskan posisinya sebagai tulang punggung ekonomi daerah.
Capaian tersebut menjadi landasan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara di bawah kepemimpinan Muhammad Bobby Afif Nasution dalam mengarahkan pembangunan ekonomi tahun 2026 dengan menempatkan UMKM dan koperasi sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah (KUKM) Sumut, Naslindo Sirait, mengatakan penguatan daya saing UMKM akan terus berlanjut seiring dinamika pasar, percepatan digitalisasi ekonomi, serta penguatan ekosistem kewirausahaan di Sumatera Utara.
“Kebijakan pembangunan daerah yang pro UMKM dan koperasi menjadi faktor kunci dalam mendorong transformasi ekonomi kerakyatan menuju struktur ekonomi yang lebih tangguh dan kompetitif,” ujar Naslindo, Kamis (15/1/2026).
Tak hanya UMKM, sektor koperasi juga menunjukkan kinerja yang signifikan. Sepanjang 2025, rasio volume usaha koperasi terhadap PDRB mencapai 1,84 persen, jauh melampaui target awal sebesar 0,79 persen. Capaian ini mencerminkan peningkatan skala usaha dan produktivitas koperasi di Sumut.
Selain itu, pertumbuhan volume usaha koperasi mencapai 5,44 persen, melampaui target 4,82 persen, dengan persentase koperasi aktif sebesar 53,78 persen.
Sekitar 46,18 persen koperasi telah memperoleh fasilitasi pelatihan, di mana hampir 90 persen di antaranya merupakan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
Rasio kewirausahaan daerah pun meningkat dari target 3 persen menjadi 4,10 persen, yang menurut Naslindo mencerminkan tumbuhnya kelas wirausaha baru, khususnya dari kalangan generasi muda.
Meski kinerja positif, Dinas Koperasi UKM Sumut memproyeksikan tingkat persaingan UMKM pada 2026 akan semakin ketat.
UMKM dituntut tidak hanya bertahan, tetapi mampu beradaptasi melalui peningkatan kualitas produk, konsistensi produksi, penguatan merek, pemanfaatan teknologi digital, serta perluasan jejaring kemitraan dan pasar.
“Pergeseran fokus kebijakan dari penciptaan usaha baru menuju penguatan kualitas, skala, dan keberlanjutan usaha menjadi arah utama penguatan ekonomi UMKM di tahun 2026,” jelas Naslindo.
Data juga menunjukkan proporsi UKM yang menjalin kemitraan dan ekspor mencapai 1,75 persen, melebihi target 1,66 persen. Angka ini dinilai sebagai indikasi awal meningkatnya orientasi UMKM Sumut terhadap pasar yang lebih luas.
Program Strategis Dorong Akselerasi
Untuk memperkuat daya saing tersebut, Dinas Koperasi UKM Sumut menyiapkan sejumlah program strategis daerah pada 2026. Di antaranya pengembangan Sumut Digital Market dan Galeri Virtual UMKM guna memperluas akses pasar digital bagi produk unggulan daerah.
Program unggulan lainnya meliputi penyelenggaraan Sumut Halal Fest, pelaksanaan Fast Track Youngpreneur #LevelUp sebagai lanjutan akselerasi 1.700 wirausaha muda, optimalisasi Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) menjadi Mall UMKM, serta pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai pusat ekonomi masyarakat
“Seluruh program ini terintegrasi dan berkontribusi langsung terhadap peningkatan volume usaha koperasi serta kontribusi UMKM terhadap PDRB Sumatera Utara,” pungkas Naslindo.













