SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
NUSANTARA

Berantas Buta Aksara Alquran: Ahmad Syahroni dan 8 Generasi Qurani dalam Proses Menyusun Buku Praktis Metode Cepat Membaca Alquran

×

Berantas Buta Aksara Alquran: Ahmad Syahroni dan 8 Generasi Qurani dalam Proses Menyusun Buku Praktis Metode Cepat Membaca Alquran

Sebarkan artikel ini

Dairi (MAWARTA) – Upaya memberantas buta aksara Alquran di Kabupaten Dairi terus digencarkan melalui berbagai inovasi.

Salah satunya datang dari Ahmad Syahroni bersama delapan generasi Qurani binaannya yang kini tengah dalam proses menyusun buku panduan praktis metode cepat membaca Alquran.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Buku ini disusun sebagai jawaban atas kebutuhan masyarakat akan metode pembelajaran Alquran yang sederhana, mudah dipahami, dan efektif untuk berbagai kalangan, khususnya pemula.

Ahmad Syahroni yang dikenal aktif dalam gerakan literasi Alquran menjelaskan bahwa penyusunan buku ini lahir dari pengalaman panjang dalam mengajar di Majelis Durusul Quran (MDQ) Al Jazariy yang ia dirikan sejak tahun 2018.

Menariknya, dalam proses penyusunan, Syahroni melibatkan delapan generasi Qurani, yaitu Putri Khairani Pandiangan, Dwi Nova Aulia Gafur, Amira Khairunnisa Chaniago, Januardi Piliang, Afdalul Hapip, Brychan, Rahmad Afandi Bintang, dan Ahmad Farhan Bancin.

Mereka merupakan murid-murid pertama sejak majelis ini didirikan dan kini menjadi kader Qurani yang turut mengembangkan metode ini.

BACA JUGA:  Wali Kota Medan Mengikuti Rapat Koordinasi Nasional Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah

Dalam rekam jejaknya, Ahmad Syahroni telah lama berkecimpung di dunia literasi Alquran.

Ia pernah menimba ilmu Alquran di MDA Desa Bintang Mersada selama 4 tahun, kemudian melanjutkan pendidikan di pesantren selama 6 tahun di Pondok Pesantren Dairi.

Selepas itu, ia meneruskan studi S1 pada Jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir di UINSU. Rangkaian perjalanan panjang inilah yang membentuk komitmennya untuk terus bergerak di bidang pemberantasan buta aksara Alquran.

Buku ini diberi nama Metode Al Jazariy, yang diambil dari nama seorang muqri ternama. Metode ini merupakan penyederhanaan dari metode Iqro yang selama ini banyak digunakan.

Menurut Syahroni, metode Iqro mulai kurang sejalan dengan kondisi generasi hari ini, yang dianggap sudah jauh dari nilai-nilai agama dan lebih fasih dalam mengoperasikan gawai dibanding membaca Alquran.

Karena itu, Metode Al Jazariy hadir dengan pendekatan lebih praktis, ringkas, dan kontekstual dengan kebutuhan zaman.

“Buta aksara Alquran bukan sekadar persoalan keterbatasan membaca huruf, melainkan juga tantangan besar dalam menjaga generasi agar tetap dekat dengan nilai-nilai ilahi. Buku ini kami hadirkan sebagai salah satu ikhtiar untuk memberikan solusi praktis, sehingga siapa pun bisa memulai membaca Alquran dengan cepat dan benar,” ujar Ahmad Syahroni.

BACA JUGA:  Bupati Labura Buka Acara Job Fair SMK Muhammadiyah 3 Aek Kanopan

Proses penyusunan buku ini diharapkan menjadi momentum penting gerakan Berantas Buta Aksara Alquran di Dairi.

Kehadiran buku ini nantinya diharapkan dapat digunakan tidak hanya di lembaga pendidikan formal dan nonformal, tetapi juga di masyarakat luas, termasuk majelis taklim, rumah-rumah belajar, hingga lingkup keluarga.

“Harapannya, buku ini tidak hanya menjadi panduan teknis, tetapi juga pemicu semangat masyarakat untuk semakin mencintai Alquran. Karena sejatinya, setiap huruf yang kita baca adalah cahaya bagi kehidupan,” tambahnya.

Gerakan ini menjadi bukti nyata bahwa semangat memberantas buta aksara Alquran bisa dimulai dari langkah kecil namun berdampak luas.

Dengan adanya proses penyusunan buku ini, Dairi diharapkan dapat menjadi salah satu daerah percontohan dalam menggalakkan literasi Alquran di Sumatera Utara bahkan Indonesia.