PEKANBARU – Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk kembali swasembada bahan bakar minyak (BBM) dan bahkan menjadi negara pengekspor minyak dunia.
Hal ini mengemuka dalam salah satu paparan ilmiah Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) yang digelar di Balai Serindit, Gubernuran Riau, Sabtu (28/6/2025) lalu.
Paparan tersebut disampaikan oleh Ketua Dewan Pakar PB ISMI, Prof. Dr. Ir. Djohar Arifin Husin, Ph.D.
Ia meyakini bahwa Indonesia bisa kembali menjadi anggota OPEC (Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak) jika pemerintah serius menggarap sumur-sumur minyak yang selama ini terbengkalai.
Berdasarkan kajiannya, produksi minyak nasional saat ini hanya sekitar 550 ribu barel per hari (BOPD), sementara kebutuhan dalam negeri mencapai 1,6 juta BOPD.
Artinya, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 1,1 juta BOPD untuk menutup kekurangan pasokan.
Prof. Djohar mengungkapkan, saat ini terdapat 13.271 sumur minyak yang nonaktif atau ditinggalkan karena produksi rendah.
Padahal, potensi minyak dari sumur-sumur ini masih sangat besar dan baru sekitar 20 persen dari total cadangan yang tergali.
Jika setiap sumur yang ada mampu menghasilkan tambahan 100 BOPD saja, maka akan ada tambahan 1,3 juta BOPD.
Dengan demikian, Indonesia bukan hanya bisa swasembada BBM, tapi juga memiliki surplus untuk ekspor dan layak kembali bergabung dengan OPEC.
Prof. Djohar juga mengusulkan pembentukan koperasi rakyat sebagai mitra pengelola sumur-sumur minyak tersebut.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan energi akan memberi nilai tambah dan efisiensi dalam proses produksi nasional.
Sekretaris Jenderal PB ISMI, Prof. Yanhar Djamaluddin, menyatakan bahwa pemerintah perlu menyusun kebijakan strategis yang mendukung kemandirian energi, termasuk pembangunan kilang modern dan diversifikasi energi baru terbarukan.
Ketua Umum PB ISMI, Nizhamul, SE, MM, turut memberikan masukan agar Indonesia memperkuat cadangan energi, memberi insentif sektor hulu migas, dan menggalakkan konservasi energi nasional.
Semua langkah tersebut diyakini akan mendorong Indonesia mencapai kemandirian energi dalam waktu dekat. (Red)













