SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BREAKING NEWS

Apakah Indonesia Sudah Menjadi Bangsa yang Inklusif?

×

Apakah Indonesia Sudah Menjadi Bangsa yang Inklusif?

Sebarkan artikel ini

Mawartanews.com, Jakarta |

Indonesia, sebagai salah satu negara yang berkomitmen pada Sustainable Development Goals (SDGs), memiliki tantangan besar untuk mewujudkan pendidikan inklusif. Target keempat SDGs menekankan pentingnya memberikan hak pendidikan bermutu kepada semua, tanpa terkecuali.

Meski Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif, realitas di lapangan menunjukkan ada kesenjangan antara kebijakan dan implementasinya. Data dari BPS menunjukkan bahwa sekitar 84% dari 6.002.500 penyandang disabilitas usia sekolah belum mendapatkan hak mereka atas pendidikan.

Dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan oleh Pendidikan Insan Bestari di Jakarta, tema “Apakah bangsa kita sudah inklusif?” menjadi sorotan utama. Raka Ibrahim, seorang penulis dan kurator independen, mengungkapkan pengalamannya di berbagai daerah di Indonesia. Ia menyoroti bahwa pendekatan inklusif seringkali hanya sebatas konsep, tanpa diiringi dengan implementasi yang konkret.

Dr. Susi Fitri dari Universitas Negeri Jakarta menambahkan perspektif baru, bahwa pendidikan sering dikelola oleh teknokrat dan ahli manajemen, tanpa mempertimbangkan aspek kultural. Sementara itu, Mahasiswa Pendidikan Inklusif, Desem, mempertanyakan peran homeschooling sebagai alternatif pendidikan bagi mereka yang tidak nyaman dengan sistem konvensional.

Kehadiran Nurlaela, seorang guru dari MAN 10 Jakarta, menunjukkan bahwa kesadaran tentang pentingnya pendidikan inklusif mulai meningkat di kalangan pendidik. Namun, masih banyak tantangan yang dihadapi, seperti kurangnya guru pembimbing khusus, sistem penilaian yang belum mendukung, serta ketersediaan sarana prasarana yang layak.

Anastasia Rima menekankan pentingnya adanya aturan yang rinci terkait pendidikan inklusi untuk melindungi hak anak. Tanpa aturan yang jelas, satuan pendidikan dan pendidik berada dalam posisi yang rentan.

Diskusi yang dihadiri oleh berbagai pihak ini menegaskan bahwa meskipun Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara inklusif, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Bagi Raka Ibrahim, cinta pada Indonesia bertambah saat menyadari keberagaman budaya kita. NKRI, dengan moto Bineka Tunggal Ika, diharapkan dapat menjadi pelindung keberagaman ini, asalkan kita semua bersedia untuk menghargai dan menghormatinya.(Dedy Hutajulu)

BACA JUGA:  Pemko Medan Buka Pasar Murah di 151 Kelurahan, Ini Harganya !