MAWARTANEWS.com, MEDAN |
Dalam gemuruh seni yang menghiasi SLB Negeri Pembina Medan, terdapat lebih dari sekadar alunan bakat siswa berkebutuhan khusus.
Acara Pentas Seni tersebut menjadi simfoni apresiasi, sebuah penghormatan yang tulus untuk para guru dan pensiunan yang telah melibatkan diri dalam panggung pendidikan selama puluhan tahun.
Kepala SLB Negeri Pembina, Mardi Panjaitan, menyatakan bahwa Pentas Seni tidak hanya mencerminkan kreativitas siswa, tetapi juga menjadi panggung penghargaan bagi para pendidik senior.
Dalam kata-katanya, kita mendengar harmoni terimakasih yang tulus untuk kontribusi panjang para guru dan pensiunan di lembaga pendidikan ini.
Mardi Panjaitan mengundang seluruh guru dan kepala sekolah yang pernah berkontribusi di SLB Negeri Pembina untuk turut serta dalam acara ini.
Kehadiran tokoh-tokoh seperti Jenny Heriani, Ketua Persatuan Tuna Netra (Pertuni) Sumatera Utara, yang telah pensiun selama 11 tahun dari SLB Negeri Pembina, menjadi sebuah penghormatan dan momen yang penuh makna.
Dalam sambutannya, Jenny menyampaikan kebahagiaannya karena sekolah masih mengingat dan mengundang mereka, menjaga silaturahim yang tak terputus. Penghormatan juga ditujukan kepada guru-guru pensiunan senior seperti Rosalina Sembiring, Drs. Komarudin, dan Torianto, yang telah memberikan dedikasi luar biasa selama puluhan tahun.
Kepala sekolah juga memberikan apresiasi kepada guru yang telah setia mengabdi selama lebih dari 30 tahun sebagai aparatur sipil negara.
Mardi Panjaitan berharap agar para senior tetap menjadi panutan bagi generasi muda, mengajak untuk membagikan pengalaman dan dedikasi mereka sebagai sumber inspirasi bagi guru-guru yang masih muda.
Dalam suasana yang hangat dan penuh kebersamaan, Rosalina Sembiring menyampaikan kebahagiaannya melihat kemajuan sekolah almamaternya.
Harapannya adalah agar SLB Negeri Pembina dapat menjadi sekolah rujukan pendidikan khusus di Sumatera Utara, menjadi bukti nyata perjalanan pendidikan yang semakin berkualitas dan inklusif.
Melalui gemerlap seni dan suasana kekeluargaan yang tercermin dalam acara tersebut, Pentas Seni Difabel menjadi sebuah melodi apresiasi yang mengangkat setiap jejak perjalanan, baik guru senior maupun siswa. Di SLB Negeri Pembina, setiap langkah adalah syair yang diapresiasi dan dihormati, menciptakan simfoni keberhasilan dalam pendidikan inklusif. (Dedy Hu)











